Rabu, 19 November 2014

COPAS, COPy sesuai ASlinya dunk !



Sebenarnya ini endapan perasaan dari sekian lama, namun terpending berkali-kali oleh urusan yang (sok) penting, hihi.

Baiklah, langsung to the point aja yaaa....


unduh dari : http://www.umnet.com/free-screensaver/108431-white_tulip_640x480



COPAS, COPy sesuai ASlinya dunk.. !
~ Viana Wahyu ~ 


"Biarkan kata-kata itu sendiri yang membela diri. Viana hanya jadi perantara melahirkannya."

Pertama kali kenalan dengan istilah copas itu saat kuliah, dan bukan dari teman-teman satu kuliah, melainkan dari teman-teman yang beda kampus dan jurusan.  Jurusan yang Vi ambil adalah jurusan kesehatan yang waktu itu semuanya harus manual (hikss), komputerisasi baru bisa dinikmati saat adek kelas berjaya (wong saat itu bawa laptop ke kamar asrama saja dilarang e :D) 

Tahu ga artinya copas apa hayooo...? Copy and paste alias salin dan kutip, sob.

Dan makin ke sini ternyata istilah itu makin sering terdengar dan menjadi suatu wabah yang tidak mematikan tapi menghebohkan. Sebab dengan dukungan teknologi-- dan memang teknologilah pemicunya-- wabah copas ini kian mudah ditemukan. Dan akan amat sangat mengherankan jika pemakai teknologi itu tak melazimkan copas, hehe.

Sebenarnya, copas boleh-boleh saja dan amat sangat dibolehkan sekali jika memang tujuannya untuk kebaikan, misal saat mem-BC alias membroadcast info kebaikan yang need urgent atau info penting. Hanya saja, copas ini sempat menimbulkan stuck pada Vi. Menumbuhkan rasa malas dan enggan untuk menulis, sebab bukan saja sebuah tulisan yang panjang, hatta sebuah status yang hanya terdiri dari kalimat sederhana saja dan hanya terdiri dari minimal tiga kata pun habis kena virus copas tanpa nama Vi.

Seharusnya senang jika status atau setiap kebaikan apapun yang niatnya kita bagi menjadi sebuah bahan copas dan disebarluaskan, namun yang membuat Vi enggan menulis itu ketika copas itu berarti bebas menCOngkel POStingan, hiks.





Sudah berapa kali tulisan Vi dicopas tanpa mencantumkan sumber, tanpa menyertakan nama Vi yang menuliskan ide awalnya. Padahal nama Vi pun include di dalam tulisan. Gejala yang awal-awal dulu Vi alami saat kuliah, ketika masih zamannya sms-an dan tiba waktunya Lebaran. Wewww sehari bisa ratusan pesan yang masuk dari kawan dan saudara. Dan ketika saatnya Vi yang mengirim kata-kata (biasa kan waktu Lebaran gitu kata-katanya penuh polesan) dan Vi kirim ke seluruh kontak, seringkali akhirnya Vi nerima balik kata-kata yang sama, hanya namanya diubah, dari nama Viana menjadi nama yang bersangkutan. Dan itu kata-kata yang Vi gubah itu (halah bahasanya) kembali ke Vi bukan cuma dari satu orang, tapi dari beberapa orang.

Dan akhirnya lama-lama terulang dan terus terulang saat tulisan-tulisan Vi, dengan sengaja Vi edarkan ke komunitas, padahal dengan nama, tapi lagi-lagi beberapa kali nama Vi hilang.


Protes ?

Iya lah, jaman masih kuliah gitu, jaman nom-noman yang penuh idealisme. Apalagi sudah dari SMP kenal istilah plagiat dari pelajaran kesayangan, Bahasa Indonesia. Sudah berapa kali Vi protes hal tersebut ke pihak-pihak yang mencatut eh mencabut nama Vi dari akarnya.


Dan kini...? Gejala eh malah sudah diagnosa pasti tanpa perlu pemeriksaan diagnostik lainnya, copas itu benar-benar kian nyata. Dan entah sudah berapa kali jadi korban "_"

Mungkin... karena nama Vi memang tidak menjual atau memang tak layak untuk ditautkan karena bukan siapa-siapa heuheu. Tapi tidakkah merasa ada yang ga pas di hati, ketika sebuah 'hak cipta' meski sesederhana apapun itu, dicongkel seenaknya dan terlebih jika diganti nama dengan yang merepost ?

Capek sebenanya ngurusin siapa yang jadi pelakunya, dan Vi memilih sengaja tak mau memperpanjang urusan dengan yang melakukannya. Bisa jadi mereka tak paham dengan etika, bisa jadi mereka memang tak tahu kalau itu bisa dikatakan plagiat.

Akhirnya setelah langkah antisipasi dilakukan untuk mencegah plagiasi dan ternyata masih jebol juga untuk dicongkel, maka Vi anggap tulisan yang bertebaran dengan menghilangkan nama Vi itu sebagai sedekah. Semoga yang melakukannya mendapat pencerahan. Meski pernah juga Vi dan suami tak sekedar diam dan mengusut kasus copas tersebut. Tapi jujur, Vi lebih nyaman kalau mengambil langkah, "Biarkan kata-kata itu sendiri yang membela diri. Viana hanya jadi perantara melahirkannya."

Alhamdulillah, kini teman-teman sering memberi tahu jika tulisan Vi dicopas oleh orang, karena memang mereka lebih dulu tahu bahwa itu freshnya dari oven pikiran Vi. Walau memang ide di dunia itu tak ada yang pure original.

Seharusnya ada applikasi semacam edit photoshop yah untuk tulisan, biar copas mengcopas tanpa etika itu lama-lama terkelupas dan tak akan gampang terulang untuk mencongkel postingan aslinya. Copas ? COPy sesuai ASlinya aja dunk.. ! ^_^ 



1 komentar:

  1. keren artikelnya gan jadi bisa diterapkan diblog berita property milik sy..trim sudah berbagi dan posting...
    perkembangan property kota depok
    Berita property perumahan

    BalasHapus