Selasa, 30 September 2014

Rizki Tidak Pernah Tertukar (Jeda Usai Mengirim Naskah)

Lepivi dan her soulmate "Viotab"


Rizki Tidak Pernah Tertukar

* Sebuah jeda hati usai mengirim naskah

^ Viana Wahyu ^


Selalu ada benih harapan yang tersemai usai mengirim naskah lomba menulis, harapan telah berhasil memenangkan diri yang berhasil melampaui deadline. Apalagi ketika syarat dan ketentuan lomba itu cukup mengurangi helai di kantong (ngeprint, mengcopy rangkap sesuai yang diinginkan panitia, mengirim naskah, materai rangkap, bea pergi ke kantor pos/ ekspedisi, bea makan, bea lembur garap hingga deadline, bahkan bea menyisihkan kepingan waktu untuk menulis) >>> NEXT mungkin Viana akan memilih lomba yang gratis tanpa harus ngeprint dan pergi ke jasa antar paket deh, yang bisa cukup dengan mengirim email heuheu...

Saat naskah itu telah mengepak menuju muaranya, saatnya mengeratkan taburan do'a.. Tentang rizki, menang atau kalah, itu urusan Allah... Setidaknya sampai tahap ini Viana harus berdo'a agar naskahnya tidak nyasaaar "_"

Memindahkan semua file naskah lomba dari bagian desktop lepivi ke bagian D, membungkus dan menyelipkan hasil print out di tumpukan file yang diprint di lemari naskah, menutup semua file yang berhubungan dengan naskah yang dikirim. Pokoknya case closed !


Rabu, 24 September 2014

Bunda Kerja di RS *di Rumah Saja*


Di rumah atau di luar rumah ?

Bunda Kerja di RS* di Rumah Saja
:: Viana Wahyu ::



Berkarier di luar rumah atau berkarier dari rumah tak akan pernah ada habisnya jika dibahas. Semua pasti punya pandangan dan alasan kebaikan masing-masing, tapi kalau pilihan itu sebuah kecenderungan yang tak bisa dipaksakan. Walau aku sendiri merasakan sebenarnya 'keterpaksaan' berkarier dari rumah, hiks...

Semenjak memutuskan mengakhiri masa kebebasan sebagai seorang gadis dan menerima dengan lillahi ta'ala dengan hadirnya seorang laki-laki yang menjadi imamku, maka aku resign dari pekerjaan sebagai tenaga medis di bidang pelayanan. Dan atas izin Allah, bulan kedua dari pernikahan kami, sudah ada kabar baik dengan kehadiran cah bagus di tempat paling kokoh se-dunia. Niat untuk kembali bekerja saat hijrah mengikuti suami di Jakarta pun terpaksa dibatalkan karena ortu dan mertua yang 'ngeman' calon cucunya.

"Ga usah kerja dulu, nduk... dieman-eman calon bayinya.."

Memang cucu pertama sih di keluargaku. Dan aku sendiri, yang semasa di Surabaya sudah puas menjadi penjelajah dan bahkan sudah berkarakter 'muslimah pembalap' (uhuk) dengan menaklukkan medan di Surabaya, harus menjadi sosok kalem dan lembut demi buah hati. Kalau suami sih, dia nrima karakter istrinya yang sudah diceritakan di postingan kisah ta'aruf yaa, kalau istrinya ini bukan sosok yang kalem (ehem).

Akhirnya aku pun menikmati masa-masa kemanjaan itu. Dimanja suami, ortu dan mertua. Jadi rinduuu masa-masa dimanja begituu hihi. Memulai aktivitas yang berbeda seratus delapan puluh derajat dengan saat di Surabaya. Hanya berkutat di rumah kontrakan (saat nikah) vs pagi sampai sore di rumah bersalin dan shift malam di rumah sakit bagian VK (saat single) lama-lama membuatku stuck. Bosan. Dan ga bisa ke mana-mana karena belum paham peta Jakarta dan karena terikat ijin yang ga dibolehin kangmas pergi sendiri hihi (bedaaa bangeet dengan saat jadi gadis :D ).

Hingga akhirnya kembali menemukan passion menulis yang sempat terkubur saat di bangku kuliah karena kesibukan praktik dan nulis asuhan kebidanan bertulis tangan bo' hihi... ga sempat lagi jadinya nulis selain di diary. Dan baru saat lulus bisa bikin blog dan ikut komunitas menulis di FLP (ups, ijin masang nama yaa meski cuma sebentar juga ikutan FLP di Surabaya karena waktu kelas menulis yang selalu hari Minggu dan kerja yang liburnya tak selalu jatuh hari Minggu).

Maka, menulis akhirnya menjadi passion ketika status berubah menjadi calon bunda dan telah menjadi bunda (hingga saat mengetik postingan ini). Ruang kerja pun dinamis, bisa di mana saja. Waktu kerja juga elastis, mau pagi, siang atau sore asal anak dan suami sudah kelar keurus hihi.

Dan baru-baru ini ruang kerja pun kian bertambah jangkauannya sejak Azzam sekolah TK. Aku membawa laptop ke sekolah agar bisa lebih memanfaatkan waktu. Sebab jika sudah di rumah, bakalan tak sempat membuka si lepivi* nama laptop kesayangan* kecuali dua lelaki sudah pada tidur. Dan Azzam memberlakukan peraturan baru buat bunda " Bunda ga boleh pegang hape dan laptop kalau sama Azzam, kalau pegang buku boleh... buat nyeritain ke Azzam" Oalaahhh... xixixi


'Ruang Kerja" sambil menanti Azzam sekolah


'Ruang Kerja' sambil nemanin anak makan di luar usai belanja


"Ruang Kerja" sambil nemanin anak main
Dan masih banyaaaak lagi koleksi "ruang kerja" bunda Viana hihihi... kapan-kapan deh diaplod khusus foto ruang kerja :D


Membersamai anak-anak walau kehilangan waktu untuk diri sendiri lebih kupilih dibanding meninggalkan anak-anak dan menghilangkan waktu mereka bersama kita #VianaWahyu

Tetaplah menjadi bunda yang hebat di mata anak-anak kita, duhai bunda...
senyuman anak lebih dari segala yang kau miliki, bahkan dirimu sendiri...

“Anak adalah kehidupan, mereka sekedar lahir
melaluimu tetapi bukan berasal darimu.


Walaupun bersamamu tetapi bukan milikmu,
curahkan kasih sayang tetapi bukan memaksakan pikiranmu
karena mereka dikaruniai pikirannya sendiri.


Berikan rumah untuk raganya, tetapi tidak jiwanya, karena
jiwanya milik masa mendatang, yang tak bisa kau datangi
bahkan dalam mimpi sekalipun.


Bisa saja mereka mirip dirimu, tetapi jangan pernah
menuntut mereka jadi seperti sepertimu.


Sebab kehidupan itu menuju ke depan, dan
tidak tenggelam di masa lampau.


Kaulah busur, dan anak-anakmulah anak panah yang melucur.
Sang Pemanah mahatahu sasaran bidikan keabadian.
Dia menentangmu dengan kekuasaanNya,
Hingga anak panah itu melesat, jauh serta cepat.


Meliuklah dengan suka cita dalam rentangan tangan Sang Pemanah,
Sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat
Sebagaimana pula dikasihi-Nya busur yang mantap”.
#Puisi Kahlil Gibran dalam "Anakmu bukan anakmu" yang juga bisa dilihat di sini



Kalau ditanya "ga pengen kerja lagi? " jawabnya "ya pengeeen lah... ini pun juga sudah kerja, kalau nulis terus dapat honor hihi.."

Tentang skenario kembali kerja sesuai profesi, biarlah Allah yang kelak akan mengembalikan bunda kembali bekerja di RS*Rumah Sakit* atau Bunda tetap kerja di RS* Rumah Saja* hihihi


Depok, 25 September 2014
"Bunda love you, mas Azzam...more than bunda love my self.."


Minggu, 21 September 2014

Refleksi Kemerdekaan



 *17 Agustus 2014 s.d 22 September 2014*


Baru ingat saat buka-buka file pernah nulis ini... Saat diminta dadakan oleh suami untuk membuat refleksi kemerdekaan, setelah dia semalaman tak berhasil juga menulis tentang hal ini. Dan seolah seperti benar-benar menjiwai isi proklamasi... suami hanya memberi tempo yang sesingkat-singkatnya padaku, hanya dalam waktu setengah jam ! Dan alhamdulillah aku bisa menyelesaikannya dalam waktu sepuluh menit... ! Horeee... merdekaaa !

Sebenarnya aku diminta sekalian membacakan isinya saat malam 17-an di mushola warga bersama anak-anak santri, sayangnya waktunya malam jam delapan hingga selesai, dan Azzam sudah tak bisa dinego lagi untuk melek. Jadilah akhirnya kangmas yang membaca tulisanku. yeaay... \^_^/






Refleksi Kemerdekaan : Saat Surga itu Bermula dari Indonesia
Oleh : Viana Wahyu

Bismillahirrohmaanirrohiim


Merdeka itu...
Saat negeri indah yang kita diami, Indonesia, berani menunjukkan jati dirinya, dengan pijakannya yang kokoh, dengan lantang suaranya dan dengan kegagahan rakyat yang bersahaja.

Merdeka itu...
Bukan warisan kolonial, tapi harga dan hadiah terindah dari Yang Maha Kuasa untuk seluruh rakyat Indonesia. Saat langkah mengusir penjajah yang dibayar dengan derai air mata, darah dan nyawa menemukan muara keindahan dunia. Saat segala pengorbanan yang tak murah dan tak sedikit bukan hanya terjadi dalam hitungan hari, tapi tiga setengah abad, ratus lima puluh tahun. Duhai... seperti apakah wajah negeriku saat itu hingga sekian lamanya dalam ujian besar..?

Merdeka itu...
Bukan sekedar mengingat segala jejak para pejuang yang telah gugur dan menyinggahi taman makam pahlawan menabur bunga. Bukan semata berdiri menantang matahari menghadap sang merah putih yang terkembang oleh bayu. Bukan....bukan itu...

Rabu, 17 September 2014

Puisi tentang Kecewa

pic from cahayaqaseh186.bogspot.com
KECEWA
by : Viana Wahyu

Kau ingin tahu rasanya kecewa
seperti sembilu yang menusuk jiwa
sesal tiada guna yang melantakkan wibawa

tapi kadang kau perlu belajar untuk kecewa
saat langkah membuatmu jumawa
saat diri terlalu banyak bercengkerama dengan najwa

kadang memang perlu disapa oleh kecewa
agar tingginya harapan bersanding dengan legawa
tanpa sesumbar dan kepribadian satwa


#bukan karena apa dan siap puisi ini tertuang, hanya endapan kata yang menggelanyut minta segera dituangkan

Pernah ga sih kecewa... ?

Rasanya kecewa itu, seperti terhempas dari ketinggian tidak terduga dan tertimpa tangga. Ohh, berarti peribahasa sudah jatuh tertimpa tangga itu artinya kecewa ya... ? hihi... Tapi intinya kecewa itu kesedihan hati yang amat sangat karena sudah berharap dan ternyata jauh panggang dari api, bagai pungguk merindukan bulan, bagai salju di matahari (ah, mulai ngelantur deeeh ).

Bagi yang pernah merasa kecewa... mup on, yuukkk !! ^_^



Jumat, 05 September 2014

Untuk Cah Bagus



Azzam, cah bagus...

Meski jalan tak selalu mulus
Meski roda adakala tergerus
Tetaplah jadi ksatria yang menghunus
Tekad tauhid yang lurus

Namamu kan terus berhumus
Celotehmu akan bergugus
Kesabaranmu tak pernah aus
Harapanmu tiada putus
Jiwamu nan halus
Cintamu nan tulus

Kaulah cah bagus....
Yang mengajari bunda memaknai surga sebelum firdaus


#Viana
♥ bunda Azzam ♥

Banana Pizza very simple


Yuhuu... kali ini mo aplod dunia dapur ah... meski resepnya gampang bangeeet bin praktis. Yang penting kece kalau buat bekal Azzam sekolah xixixi. Resepnya Viana bagi yaa... sok atuh yang mo coba, bisa dikreasikan juga sesuai kebutuhan ^_^

♥ Banana Pizza ♥

Bahan :
1. Roti tawar kupas bentuk bulat atau sesuai selera, bisa juga yang ada kulitnya tapi teksturnya beda dengan yang kupas. Suka-suka aja yaa yang mana
2. Selai stroberi
3. Pisang kepok kuning/ raja/ uli dipotong bulat tipis
4. Margarine
5. Parutan keju atau lainnya sesuai selera


Eksekusi :
1. Oles rotwar dengan margarine di kedua sisinya
2. Oles rotwar dengan selai stroberi di salah satu sisinya
3. Tata potongan pisang di atas selai stroberi
4. Panggang sebentar hingga margarine meleleh
5. Beri toping parutan keju *bisa juga ditambah/diganti meises atau kacang


Selamat mencobaaa ^_^ kalau ada kreasi boleh atuh dilink di mari dan jangan lupaaa abis eksperimen dijepret yaaa xixixi