Rabu, 19 November 2014

COPAS, COPy sesuai ASlinya dunk !



Sebenarnya ini endapan perasaan dari sekian lama, namun terpending berkali-kali oleh urusan yang (sok) penting, hihi.

Baiklah, langsung to the point aja yaaa....


unduh dari : http://www.umnet.com/free-screensaver/108431-white_tulip_640x480



COPAS, COPy sesuai ASlinya dunk.. !
~ Viana Wahyu ~ 


"Biarkan kata-kata itu sendiri yang membela diri. Viana hanya jadi perantara melahirkannya."

Pertama kali kenalan dengan istilah copas itu saat kuliah, dan bukan dari teman-teman satu kuliah, melainkan dari teman-teman yang beda kampus dan jurusan.  Jurusan yang Vi ambil adalah jurusan kesehatan yang waktu itu semuanya harus manual (hikss), komputerisasi baru bisa dinikmati saat adek kelas berjaya (wong saat itu bawa laptop ke kamar asrama saja dilarang e :D) 

Tahu ga artinya copas apa hayooo...? Copy and paste alias salin dan kutip, sob.

Dan makin ke sini ternyata istilah itu makin sering terdengar dan menjadi suatu wabah yang tidak mematikan tapi menghebohkan. Sebab dengan dukungan teknologi-- dan memang teknologilah pemicunya-- wabah copas ini kian mudah ditemukan. Dan akan amat sangat mengherankan jika pemakai teknologi itu tak melazimkan copas, hehe.

Sebenarnya, copas boleh-boleh saja dan amat sangat dibolehkan sekali jika memang tujuannya untuk kebaikan, misal saat mem-BC alias membroadcast info kebaikan yang need urgent atau info penting. Hanya saja, copas ini sempat menimbulkan stuck pada Vi. Menumbuhkan rasa malas dan enggan untuk menulis, sebab bukan saja sebuah tulisan yang panjang, hatta sebuah status yang hanya terdiri dari kalimat sederhana saja dan hanya terdiri dari minimal tiga kata pun habis kena virus copas tanpa nama Vi.

Seharusnya senang jika status atau setiap kebaikan apapun yang niatnya kita bagi menjadi sebuah bahan copas dan disebarluaskan, namun yang membuat Vi enggan menulis itu ketika copas itu berarti bebas menCOngkel POStingan, hiks.



Minggu, 05 Oktober 2014

"Bunda, Kambingnya Ketemu Allah, ya?" (Edisi Qurban)





"Bunda, Kambingnya Ketemu Allah, ya?" (Edisi Qurban)
^ Viana Wahyu^



Bismillah, 
Tahun ini berkurban atas nama ananda cah bagus, Achmad Azzam SP. Dari awal, Azzam sudah diajak Ayah yang memang juga menjadi panitia pelaksanaan Qurban di lingkungan rumah. Dan usai sholat Ied, Azzam ngajak Vi untuk melihat kambing yang sudah dikasih tanda nama untuk Azzam, karena sang Ayah sudah sibuk wara-wiri bersama bapak-bapak.

"Bunda, mana daunnya lagi?" Azzam minta dicariin daun buat kambing putihnya.

Asli, saat itu hati Vi sudah ga karuan. Antara senang dan ga tega. Detik-detik kehidupan kambing yang akan segera berakhir hari ini. Dan harus disaksikan Azzam.

"Mas, nanti kambingnya mau diqurbanin, ya.." kata Vi sambil menahan rasa di hati melihat lahapnya si kambing memakan dedaunan yang disodorkan Azzam. Pengen sebenarnya ngelus-ngelus kambingnya, tapi akhirnya urung karena Vi memilih mengelus-elus hati biar ga kebablas nangis di TKP, heuheu.

"Kenapa kambingnya diqurbanin bunda?"

"Biar kambingnya mas Azzam ketemu Allah, nanti kambingnya in sya Allah jemput mas Azzam buat masuk surga..." (duh, ngetik ini sambil mbrebes mili ingat peristiwa tadi pagi).

Dug... dug... dug...

Tibalah saatnya eksekusi bagi semua hewan yang dikumpulkan oleh yayasan sebagai penanggung jawab pelaksanaan Qurban di lingkungan rumah, YCAT Depok, yang semuanya berjumlah 4 ekor sapi dan 11 ekor kambing. Dan kambing cah bagus urutan pertama yang disembelih. Alhamdulillah lancar (Vi ga tega mo lihat...)

Alhamdulillah, Azzam bertemu kedua teman sekolahnya yang bisa jadi kesempatan bunda buat sedikit menepis perasaan saat melihat eksekusi itu terjadi. Hanya mampu melantunkan takbir tanpa melihat kronologis kejadian hilangnya nyawa-nyawa hewan yang diqurbankan. Dan Azzam, sebisa mungkin Vi batasi untuk melihat langsung hal-hal yang membuat bundanya merasa ngeri "_" Meski tetap saja, rasa penasarannya dan juga ajakan teman-temannya untuk mendekat yang membuatnya mampu menepis himbauan Vi.

"Bunda, kambingnya sudah naik ke atas ketemu Allah, ya...?"

Huwaaa... bundanya baru bisa nangis sekarang saat beberapa jam dari pemotongan hewan yang diqurbankan ketika pertanyaan Azzam itu terngiang lagi. Saat di TKP, Vi berusaha ngajak Azzam untuk bertakbir dan baca do'a saat hewan-hewan itu memenuhi takdirnya. 

Hingga sampailah giliran sang sapi dirobohkan ke tanah untuk diqurbankan. Dan, yang membuat hati menangis (hati aja yaaa, alhamdulillah... Vi masih bertahan untuk tak nangis di lokasi kerumunan orang dan terlebih banyak anak-anak, maluuu lah).

Kali ini Azzam bersama kedua temannya pengen mendekat lagi, bahkan Azzam dkk ikut gantian bertakbir dari toa yang dibawa Ayah saat bertugas. Duh, bundanya malah galau. Akhirnya ayat demi ayat yang bisa Vi baca dari hp bisa menjadi sedikit penenang. 

Mendadak Pengen Pingsan

"Zam, sapinya menangis !" kata Ayah yang berada tak jauh dari Vi. Azzam dkk masih tetap ceria tanpa terbawa emosi kayak sang bunda, huhuhu.

Apaa...? Sapi menangis?  Jadi malah berderai-derai hati Vi. Dan berusaha mengabadikan momen sang sapi yang menangis, hiks.

Takbiiiir.... ! 
(Jujur pengen ngambil toa yang dipegang suami dan ngajak semua hadirin lebih kenceng lagi takbirnya *inget jaman jadi mahasiswa pas ikut demo)

Beda ya feelnya kalau hewan kecil (kambing) yang disembelih dengan sapi. Untuk merobohkannya dengan menghadap kiblat pun harus beberapa orang kekar yang melakukannya.Vi ga berani menatap proses demi proses yang terjadi... Ngilu !

Olala....Karena beberapa lama berkutat di TKP karena ngawasi Azzam, plus jadinya ngemong tiga bocah dengan temannya, akhirnya Vi sempatkan juga memupuk keberanian (baca : bonek bin uji nyali) untuk melihat sesi akhir eksekusi. Saat kepala sapi itu terputus dari badannya (huwaaa) dan saat darah mengalir deras, plus saat kepala sang sapi-sapi telah terpisah dari badannya namun vena jugularis (bener ya para ahli hewan..?) masih berdenyut-denyut memompa darah.Tiba-tiba pingin pingsan. Duuh, Zaaam... ! 

Tapi bunda ga boleh pingsan. Meski basic Vi sebelum diamanahi Allah untuk menjadi seorang istri dan calon bunda adalah tenaga medis, yang tak bergeming ketika darah mengalir, ketika harus menjahit, ketika tangan berlumur darah manusia... Namun justru karena adanya perbedaan yang ditangani adalah manusia, tepatnya wanita melahirkan dan sekarang yang dilihat adalah hewan, membuat nyali Vi menciut. Kebalikan dengan suami atau adek Vi yang mereka lebih tatag (tegar, Jawa) melihat darah hewan dibanding darah manusia. Membuat imajinasi berkelana ke mana-mana. Sampai-sampai sempat terpikir untuk menulis fabel hewan, hehe. 

Mereka Tidak Sakit 


Menyempatkan mengusir galau dengan bbm ke teman-teman, termasuk ke mbak-mbak penulis senior, hingga salah satu mbak, yakni mbak Shabrina Ws yang mengirimkan sebuah artikel dari postingan temannya. Ini ya linknya...hewan disembelih tidak sakit


Kamis, 02 Oktober 2014

Jum'at Mewangi, antara Jalanan dan Sekolah

 
Pic from gardenfly.wordpress.com


 Jum'at Mewangi, antara Jalanan dan Sekolah
  ^ Viana Wahyu ^


Jum'at di Jalanan

Kalau Jum'at ituuh....Jalanan mewangiiiiii....

Itu selalu yang jadi khas kalau keluar rumah tiap hari Jum'at siang mendekati atau selesai momen Jum'atan. Sepanjang jalanan itu wangiii bangeet dah. Ampe mabok hihi.

Kadang Jum'at siang usai sekolah ada urusan karena mendekati weekend dan seringnya tiap Jum'at menjadi hari kumpulan reward buat Azzam setelah seminggu sekolah. Entah dengan mengajaknya jalan meski sekedar ke tempat main anak dan makan di luar (tanpa ayah yang masih di kantor heuheu), kalau dulu pas di Play Group sih Jum'at waktunya jalan-jalan ke kantor Ayah di Jakarta dengan naik commuter line atau kadang usai Jum'atan sudah cuzz menuju holiday :D Jadinya seringnya tiap Jum'at siang menjadi penikmat jalan wangi... Hmmm... 

Jum'at itu pesona wangi yang bertebaran di muka bumi #Viana

Cara Tethering Wi-Fi Samsung Galaxy Grand Duos *edisi emak-emak

My partner


Meski sebagai emak-emak, gadget bukanlah barang nomor satu karena masih terkalahkan oleh cobek (ulek-ulek ; Jawa), belum lagi dengan keberadaan anak yang harus tetap dinomor satukan, juga suami yang juga tak boleh dikalahkan kehadirannya (bakal repot kalau suami ngambek xixi). So, kali ini Vi coba ngulek eh ngulik tentang gadget deh... Meski kapasitas pemahamannya masih jauuh dari paham, sekedar tahu mungkin, tapi lebih tepatnya dibilang nekat untuk tahu :D

Jadi di sini pembahasannya sesuai dunia emak-emak aja yaa... Silahkan gugling lebih detail untuk mengetahui bahasa gadgetnya yang baik dan benar ^_^

Wi-Fi Tethering
* eh atau kebalik ya istilahnya... Sok aja yah... pokoknya yang pake bumbu Wi-Fi ama ulekan Tethering dah..

Bahan- bahan yang disiapkan *udah kayak mo cooking ajaah :
  • Secangkir pengetahuan tentang Wi-Fi
  • Handphone atau smartphone plus otak yang berusaha smart jugah ^_^
  • Laptop atau perangkat yang mau dikoneksikan



Selasa, 30 September 2014

Rizki Tidak Pernah Tertukar (Jeda Usai Mengirim Naskah)

Lepivi dan her soulmate "Viotab"


Rizki Tidak Pernah Tertukar

* Sebuah jeda hati usai mengirim naskah

^ Viana Wahyu ^


Selalu ada benih harapan yang tersemai usai mengirim naskah lomba menulis, harapan telah berhasil memenangkan diri yang berhasil melampaui deadline. Apalagi ketika syarat dan ketentuan lomba itu cukup mengurangi helai di kantong (ngeprint, mengcopy rangkap sesuai yang diinginkan panitia, mengirim naskah, materai rangkap, bea pergi ke kantor pos/ ekspedisi, bea makan, bea lembur garap hingga deadline, bahkan bea menyisihkan kepingan waktu untuk menulis) >>> NEXT mungkin Viana akan memilih lomba yang gratis tanpa harus ngeprint dan pergi ke jasa antar paket deh, yang bisa cukup dengan mengirim email heuheu...

Saat naskah itu telah mengepak menuju muaranya, saatnya mengeratkan taburan do'a.. Tentang rizki, menang atau kalah, itu urusan Allah... Setidaknya sampai tahap ini Viana harus berdo'a agar naskahnya tidak nyasaaar "_"

Memindahkan semua file naskah lomba dari bagian desktop lepivi ke bagian D, membungkus dan menyelipkan hasil print out di tumpukan file yang diprint di lemari naskah, menutup semua file yang berhubungan dengan naskah yang dikirim. Pokoknya case closed !


Rabu, 24 September 2014

Bunda Kerja di RS *di Rumah Saja*


Di rumah atau di luar rumah ?

Bunda Kerja di RS* di Rumah Saja
:: Viana Wahyu ::



Berkarier di luar rumah atau berkarier dari rumah tak akan pernah ada habisnya jika dibahas. Semua pasti punya pandangan dan alasan kebaikan masing-masing, tapi kalau pilihan itu sebuah kecenderungan yang tak bisa dipaksakan. Walau aku sendiri merasakan sebenarnya 'keterpaksaan' berkarier dari rumah, hiks...

Semenjak memutuskan mengakhiri masa kebebasan sebagai seorang gadis dan menerima dengan lillahi ta'ala dengan hadirnya seorang laki-laki yang menjadi imamku, maka aku resign dari pekerjaan sebagai tenaga medis di bidang pelayanan. Dan atas izin Allah, bulan kedua dari pernikahan kami, sudah ada kabar baik dengan kehadiran cah bagus di tempat paling kokoh se-dunia. Niat untuk kembali bekerja saat hijrah mengikuti suami di Jakarta pun terpaksa dibatalkan karena ortu dan mertua yang 'ngeman' calon cucunya.

"Ga usah kerja dulu, nduk... dieman-eman calon bayinya.."

Memang cucu pertama sih di keluargaku. Dan aku sendiri, yang semasa di Surabaya sudah puas menjadi penjelajah dan bahkan sudah berkarakter 'muslimah pembalap' (uhuk) dengan menaklukkan medan di Surabaya, harus menjadi sosok kalem dan lembut demi buah hati. Kalau suami sih, dia nrima karakter istrinya yang sudah diceritakan di postingan kisah ta'aruf yaa, kalau istrinya ini bukan sosok yang kalem (ehem).

Akhirnya aku pun menikmati masa-masa kemanjaan itu. Dimanja suami, ortu dan mertua. Jadi rinduuu masa-masa dimanja begituu hihi. Memulai aktivitas yang berbeda seratus delapan puluh derajat dengan saat di Surabaya. Hanya berkutat di rumah kontrakan (saat nikah) vs pagi sampai sore di rumah bersalin dan shift malam di rumah sakit bagian VK (saat single) lama-lama membuatku stuck. Bosan. Dan ga bisa ke mana-mana karena belum paham peta Jakarta dan karena terikat ijin yang ga dibolehin kangmas pergi sendiri hihi (bedaaa bangeet dengan saat jadi gadis :D ).

Hingga akhirnya kembali menemukan passion menulis yang sempat terkubur saat di bangku kuliah karena kesibukan praktik dan nulis asuhan kebidanan bertulis tangan bo' hihi... ga sempat lagi jadinya nulis selain di diary. Dan baru saat lulus bisa bikin blog dan ikut komunitas menulis di FLP (ups, ijin masang nama yaa meski cuma sebentar juga ikutan FLP di Surabaya karena waktu kelas menulis yang selalu hari Minggu dan kerja yang liburnya tak selalu jatuh hari Minggu).

Maka, menulis akhirnya menjadi passion ketika status berubah menjadi calon bunda dan telah menjadi bunda (hingga saat mengetik postingan ini). Ruang kerja pun dinamis, bisa di mana saja. Waktu kerja juga elastis, mau pagi, siang atau sore asal anak dan suami sudah kelar keurus hihi.

Dan baru-baru ini ruang kerja pun kian bertambah jangkauannya sejak Azzam sekolah TK. Aku membawa laptop ke sekolah agar bisa lebih memanfaatkan waktu. Sebab jika sudah di rumah, bakalan tak sempat membuka si lepivi* nama laptop kesayangan* kecuali dua lelaki sudah pada tidur. Dan Azzam memberlakukan peraturan baru buat bunda " Bunda ga boleh pegang hape dan laptop kalau sama Azzam, kalau pegang buku boleh... buat nyeritain ke Azzam" Oalaahhh... xixixi


'Ruang Kerja" sambil menanti Azzam sekolah


'Ruang Kerja' sambil nemanin anak makan di luar usai belanja


"Ruang Kerja" sambil nemanin anak main
Dan masih banyaaaak lagi koleksi "ruang kerja" bunda Viana hihihi... kapan-kapan deh diaplod khusus foto ruang kerja :D


Membersamai anak-anak walau kehilangan waktu untuk diri sendiri lebih kupilih dibanding meninggalkan anak-anak dan menghilangkan waktu mereka bersama kita #VianaWahyu

Tetaplah menjadi bunda yang hebat di mata anak-anak kita, duhai bunda...
senyuman anak lebih dari segala yang kau miliki, bahkan dirimu sendiri...

“Anak adalah kehidupan, mereka sekedar lahir
melaluimu tetapi bukan berasal darimu.


Walaupun bersamamu tetapi bukan milikmu,
curahkan kasih sayang tetapi bukan memaksakan pikiranmu
karena mereka dikaruniai pikirannya sendiri.


Berikan rumah untuk raganya, tetapi tidak jiwanya, karena
jiwanya milik masa mendatang, yang tak bisa kau datangi
bahkan dalam mimpi sekalipun.


Bisa saja mereka mirip dirimu, tetapi jangan pernah
menuntut mereka jadi seperti sepertimu.


Sebab kehidupan itu menuju ke depan, dan
tidak tenggelam di masa lampau.


Kaulah busur, dan anak-anakmulah anak panah yang melucur.
Sang Pemanah mahatahu sasaran bidikan keabadian.
Dia menentangmu dengan kekuasaanNya,
Hingga anak panah itu melesat, jauh serta cepat.


Meliuklah dengan suka cita dalam rentangan tangan Sang Pemanah,
Sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat
Sebagaimana pula dikasihi-Nya busur yang mantap”.
#Puisi Kahlil Gibran dalam "Anakmu bukan anakmu" yang juga bisa dilihat di sini



Kalau ditanya "ga pengen kerja lagi? " jawabnya "ya pengeeen lah... ini pun juga sudah kerja, kalau nulis terus dapat honor hihi.."

Tentang skenario kembali kerja sesuai profesi, biarlah Allah yang kelak akan mengembalikan bunda kembali bekerja di RS*Rumah Sakit* atau Bunda tetap kerja di RS* Rumah Saja* hihihi


Depok, 25 September 2014
"Bunda love you, mas Azzam...more than bunda love my self.."


Minggu, 21 September 2014

Refleksi Kemerdekaan



 *17 Agustus 2014 s.d 22 September 2014*


Baru ingat saat buka-buka file pernah nulis ini... Saat diminta dadakan oleh suami untuk membuat refleksi kemerdekaan, setelah dia semalaman tak berhasil juga menulis tentang hal ini. Dan seolah seperti benar-benar menjiwai isi proklamasi... suami hanya memberi tempo yang sesingkat-singkatnya padaku, hanya dalam waktu setengah jam ! Dan alhamdulillah aku bisa menyelesaikannya dalam waktu sepuluh menit... ! Horeee... merdekaaa !

Sebenarnya aku diminta sekalian membacakan isinya saat malam 17-an di mushola warga bersama anak-anak santri, sayangnya waktunya malam jam delapan hingga selesai, dan Azzam sudah tak bisa dinego lagi untuk melek. Jadilah akhirnya kangmas yang membaca tulisanku. yeaay... \^_^/






Refleksi Kemerdekaan : Saat Surga itu Bermula dari Indonesia
Oleh : Viana Wahyu

Bismillahirrohmaanirrohiim


Merdeka itu...
Saat negeri indah yang kita diami, Indonesia, berani menunjukkan jati dirinya, dengan pijakannya yang kokoh, dengan lantang suaranya dan dengan kegagahan rakyat yang bersahaja.

Merdeka itu...
Bukan warisan kolonial, tapi harga dan hadiah terindah dari Yang Maha Kuasa untuk seluruh rakyat Indonesia. Saat langkah mengusir penjajah yang dibayar dengan derai air mata, darah dan nyawa menemukan muara keindahan dunia. Saat segala pengorbanan yang tak murah dan tak sedikit bukan hanya terjadi dalam hitungan hari, tapi tiga setengah abad, ratus lima puluh tahun. Duhai... seperti apakah wajah negeriku saat itu hingga sekian lamanya dalam ujian besar..?

Merdeka itu...
Bukan sekedar mengingat segala jejak para pejuang yang telah gugur dan menyinggahi taman makam pahlawan menabur bunga. Bukan semata berdiri menantang matahari menghadap sang merah putih yang terkembang oleh bayu. Bukan....bukan itu...

Rabu, 17 September 2014

Puisi tentang Kecewa

pic from cahayaqaseh186.bogspot.com
KECEWA
by : Viana Wahyu

Kau ingin tahu rasanya kecewa
seperti sembilu yang menusuk jiwa
sesal tiada guna yang melantakkan wibawa

tapi kadang kau perlu belajar untuk kecewa
saat langkah membuatmu jumawa
saat diri terlalu banyak bercengkerama dengan najwa

kadang memang perlu disapa oleh kecewa
agar tingginya harapan bersanding dengan legawa
tanpa sesumbar dan kepribadian satwa


#bukan karena apa dan siap puisi ini tertuang, hanya endapan kata yang menggelanyut minta segera dituangkan

Pernah ga sih kecewa... ?

Rasanya kecewa itu, seperti terhempas dari ketinggian tidak terduga dan tertimpa tangga. Ohh, berarti peribahasa sudah jatuh tertimpa tangga itu artinya kecewa ya... ? hihi... Tapi intinya kecewa itu kesedihan hati yang amat sangat karena sudah berharap dan ternyata jauh panggang dari api, bagai pungguk merindukan bulan, bagai salju di matahari (ah, mulai ngelantur deeeh ).

Bagi yang pernah merasa kecewa... mup on, yuukkk !! ^_^



Jumat, 05 September 2014

Untuk Cah Bagus



Azzam, cah bagus...

Meski jalan tak selalu mulus
Meski roda adakala tergerus
Tetaplah jadi ksatria yang menghunus
Tekad tauhid yang lurus

Namamu kan terus berhumus
Celotehmu akan bergugus
Kesabaranmu tak pernah aus
Harapanmu tiada putus
Jiwamu nan halus
Cintamu nan tulus

Kaulah cah bagus....
Yang mengajari bunda memaknai surga sebelum firdaus


#Viana
♥ bunda Azzam ♥

Banana Pizza very simple


Yuhuu... kali ini mo aplod dunia dapur ah... meski resepnya gampang bangeeet bin praktis. Yang penting kece kalau buat bekal Azzam sekolah xixixi. Resepnya Viana bagi yaa... sok atuh yang mo coba, bisa dikreasikan juga sesuai kebutuhan ^_^

♥ Banana Pizza ♥

Bahan :
1. Roti tawar kupas bentuk bulat atau sesuai selera, bisa juga yang ada kulitnya tapi teksturnya beda dengan yang kupas. Suka-suka aja yaa yang mana
2. Selai stroberi
3. Pisang kepok kuning/ raja/ uli dipotong bulat tipis
4. Margarine
5. Parutan keju atau lainnya sesuai selera


Eksekusi :
1. Oles rotwar dengan margarine di kedua sisinya
2. Oles rotwar dengan selai stroberi di salah satu sisinya
3. Tata potongan pisang di atas selai stroberi
4. Panggang sebentar hingga margarine meleleh
5. Beri toping parutan keju *bisa juga ditambah/diganti meises atau kacang


Selamat mencobaaa ^_^ kalau ada kreasi boleh atuh dilink di mari dan jangan lupaaa abis eksperimen dijepret yaaa xixixi

Kamis, 21 Agustus 2014

Sketsa Cinta


Sketsa Cinta

By : Viana Wahyu


Jangan bilang kabar kali ini #sengketa
Sebab ini hanya latihan menyikapi realita
Diksi sengketa hanya menuai gempita
Dilapisi ketakutan dan derita

Eits... itulah yang membuat sedapnya berita
Saat tameng-tameng besi berkata
Saat gas menjadikan berairnya mata
Saat peluru karet siap menjunta

Ini negeri kita....
Janganlah dikuasai oleh gulita
Apalagi kasih sayang tersita
Kebaikan harus tetap menjadi gita
Persatuan harus selalu bergenta


Duhai, Robb penerima segala pinta
Uraikanlah sengketa menjadi cinta
Semaikanlah sabar dan legowo untuk bercerita
Kemenangan bukan pada yang memegang tahta
Tapi pada yang tetap merenda akhlak jelita
#BabadIndonesiaDalamTinta



Selasa, 08 Juli 2014

BUKAN P(EM)ILU PRESIDEN








Saat lembar entri ini tergores oleh untaian kata, diri yang menulis ini bukanlah siapa-siapa. Hanya seorang bunda yang baru dikaruniai seorang putra dengan amanahnya menjadi istri salah seorang lelaki pilihan-Nya. Bukan bicara atas pengetahuan politik sebab keseharian di bilik. Bukan bicara sebagai komentator sebab lidahnya hanya terbiasa dengan rasa masakan yang dimasak di dapur. Hanya sebuah coretan dari hati yang meskipun bukan siapa-siapa, tetaplah merasa menjadi anak dari ibu pertiwi, Indonesia.





Sedih sebenarnya, saat harus melihat perbedaan yang berujung pertikaian bahkan berakhir korban dengan adanya dua kubu dalam Pilpres kali ini. Meski memang saat menulis ini, aku telah memiliki pilihan, dan harus memilih dong...tetapi berseberangan dengan kawan rasanya seperti perang. Bukan berperang karena kami berselisih, tetapi karena kubu-kubu di luar lingkaran persahabatan kami. Tapi, beda pilihan bukanlah perpisahan, semata hanya menjadi sebuah pembelajaran bahwa kita sudah sama-sama dewasa dan bertanggung jawab atas perbedaan jalan yang kita pilih.







Bukan soal warna,
karena dua atau ribuan warna pun, materi utamanya tetap sewarna

Bukan soal angka,
karena semua angka memiliki makna yang tak pantas menuai prasangka

Bukan soal jari,
karena hanya simbolistik yang tak perlu menimbulkan iri




Fase tenang melenggang
Jangan malah membuat hati terpanggang
Apalagi persahabatan dan persaudaraan tumbang
Karena perbedaan yang menjadi jurang




Saling bermaafan dengan lapang
Saling bergandengan menghias Ramadhan yang bertabur bintang




Kalah atau menang
Tetaplah jauhi mental pecundang
Yang berjiwa kesatria menuju atau meninggalkan gelanggang
Tak perlu menaburkan arang apalagi menuduh curang
atau meradang jika kalah menghadang
Pun tak perlu menjadi laksana sayap kumbang
Atau berkilat seperti elang
Yang riuh menabur gemilang saat menang




Tugas kita menjaga ibu pertiwi tetap riang
Tersenyum dengan bhinneka sebagai lambang
Bukan menjadi boneka bayang-bayang
Apalagi menjadi wayang yang dilakonkan dalang




Cinta kita bersama dalam kebaikan seindah berisik padang ilalang
Atau semerdu alunan kulintang
Sebab kita terlahir dari merah putih yang mendarah di sumsum tulang



Tapi tetap ada harapan yang berkubang
Lewat do’a-do’a yang membumbung dengan jubah terbang
Bahwa harus kebaikan yang menjadi pemenang





Semua mata di seluruh dunia melayangkan pandang...
padamu...ya padamu, negeri yang elok bak mayang
bagai bidadari yang menyampir selendang


Selamat memilih, Indonesiaku sayang...





^ Viana Wahyu ^

Depok, 9 Juli 2014/ 11 Ramadhan 1435 H

* Picture by google and cymera

juga nemu photo ini :

ada di beranda pencarian Google 9 Juli 2014

Senin, 23 Juni 2014

Bee-done, Hari Bidan Indonesia



"Ingatlah sumpah jabatan kita kepada Tuhan...
yang kita ikrarkan bersama
s'lalu jadikan pegangan

janganlah membuat perbedaan
terhadap miskin kaya
tugas sucimu s'bagai penyelamat
seluruh wanita di mayapada...."



Syair-syair lagu kebidanan mengalun lagi tepat pada hari ini (dan semoga syairnya tidak ada yang terlupa karena sudah kurang lebih hampir 11 tahun lalu menyanyikan lagu tersebut saat Ospek di kampus kebidanan). 24 Juni 2014. Memangnya 24 Juni hari apa hayoo....? #colek para bidan dan calon bidan Indonesia.

 
Tak banyak yang tahu bahwa 24 Juni adalah Hari Bidan Indonesia. Dan seingatku, dulu ketika Ospek ala kebidanan "Port de entry midwive'a" ga ada penjelasan tentang tanggal lahir bidan, hihi, atau aku-nya yang tak menyimak materi Ospek saat itu. 

 
Jadi, Bidan di Indonesia bisa dikatakan lahir ketika persatuan bidan Indonesia didirikan, tepatnya tanggal 24 Juni 1951. Foundernya adalah para bidan dalam Konferensi Bidan Indonesia di Jakarta, yang akhirnya memutuskan untuk mendirikan IBI, Ikatan Bidan Indonesia. Beberapa nama yang bisa disebut sebagai pendiri IBI ialah para bidan, Selo Salikun, Fatimah, Sri Mulyani, Salikun, Sukaesih, Ipah, Marguna. Yang selanjutnya menetapkan haluan bagi biduk bidan di Indonesia. Lengkapnya bisa dilihat di sini >>> sejarah bidan Indonesia.


 Mau nostalgia ah, masa-masa jadi mahasiswa dulu...next in sya Allah akan posting masa-masa menjadi bidan dan saat "resign" dari bidan hiks...hiks...Dan ini pun foto-foto yang teraplod di sini adalah menculik foto-foto yang diunggah ke mbah Gugel, soalnya zaman ngampus dulu belum ada dan belum musim ceklik-ceklik apalagi selfie ala anak sekarang. Ada hp pun sudah Alhamdulillah asal bisa sms dan nelpon, yang bisa ditelpon langsung tanpa harus antri di layanan telpon asrama atau dipanggil-panggil terderngar seantero asrama karena ada yang mencari kita dan menelepon ke asrama.


Ini kampus kebidanan "Prodi Kebidanan Sutomo Surabaya" Politeknik Kemenkes Surabaya
Kampus kebidanan yang menempaku menjadi bidan berada di jantung kota Surabaya, tepatnya masih berada di lingkungan kompleks RSU dr. Soetomo yang juga sering disebut sebagai rumah sakit Karang Menjangan karena memang berada di barat Jalan Karang Menjangan, Surabaya. Dan saat awal-awal kampus kami memang jarang disebut orang dan diketahui orang (ngerasa banget kalau dulu ke sini karena 'kecemplung' hihi), maka seringnya kami menyebutkan kampus kami yang berada di depan kampus A Unair, alias kampus kedokteran alias FK-UA geto looh. Fotonya kampus A ga usah dipajang yah, bikin ngiri hihi.


Yang bercat hijau lantai dasar adalah ruangan para dosen, yang lantai atas adalah asrama para bidan


Yang lantai bawah itu RB 1 alias Ruang Bersalin 1 RSU dr. Soetomo dan Poli KB. Di atasnya adalah kampus kebidanan yang menyambung dengan Astra, asrama putra (hanya nama) mahasiswi kebidanan
Satu angkatan ada sekitar 80-90 mahasiswa, sedang angkatanku tinggal 87 orang saja yang bertahan hingga akhir masa periode mahasiswa. Di asrama yang berada di dua lokasi, satunya dengan sebutan Astri atau asrama putri dan satunya Astra atau asrama putra, yang memang dulunya kampus kami dipakai oleh pelajar SPK, Sekolah Perawat Kesehatan yang ada putra dan putri. Nah, kalau masa kuliah di kebidanan ini kami tak ada mahasiswa laki-laki, semuanya perempuan. Tapi kalau mau cuci mata sih bisaa...lihat ke depan banyak yang calon-calon dokter atau ke sekeliling juga banyak para dokter yang kadang berseliweran ke kampus atau kami yang tinggal lewat jalan pintas saja ke dalam rumah sakit, hihi.


Ruang Tamu Astri, asrama putri
Siapa yang punya kenangan di ruang tamu Astri, ngacuuuungg....!xixixi

Hampiiirrr semua mahasiswi Kebidanan Sutomo punya dan kayaknya semua punyaa tuh masa-masa kenangan dengan ruang tamu tersebut. Bersejarah. Ada yang pernah jadi tempat bertemu rahasia hihi, tempat nerima tamu, tempat antri mandi (ups karena mengularnya antrian di kamar mandi di belakang pintu pemisah ruang tamu dan ruang dalam), atau tempat inspeksi :D *karena sang tamu diminta meninggalkan asrama karena bertamu lewat waktu atau tidak saat waktu berkunjung.


Ruang dalam asrama
Hmmm...begitulah penampakan asrama (tutup muka pake schort). Di kiri kanannya banyak bilik-bilik bersejarah yang berisi barak-barak para calon bidan. Suka ada inspeksi dadakan dan juga ada penampakan loh, kata yang suka disamperin.

Kalau tempat belajarnya di sini nih...

Ini fotonya kampus di salah satu sisi kiri yang berada di atas Poli KB* pic sebelumnya
 Ruang belajar yang lain sayang ga kefoto zaman itu hiksss...
Perpustakaan
di Perpustakaan semuanya lengkaaap deh...itu foto penampakan waktu masih ngampus di sana. Ga tahu dah foto update yang sekarang. Librariannya baikk bangeet deh, asal bukunya ga ilang hehe.


Dosen idolaaaaa....Bu Ut yang baiikk dan pro mahasiswa
Zaman jadi panitia Ospek, masih unyuu-unyuu yaa...yang laki-laki sendiri itu bapak pembina HIMA


Yang ini wajah-wajah bahagia pengurus HIMA Kebidanan Sutomo 2004-2005
sayangnyaaaa....ga semuanya terdokumentasi dalam foto, apalagi dalam bingkai. Sebab dulu entahlah ga semua bisa didokumentasikan hikss. Padahal banyaaaak yang bisa diabadikan. In sya Allah, ada jalan lain mengabadikan momen yang ga akan terulang itu. Foto saat bersama teman-teman Rohis, Kerohanian Islam, foto saat praktik, foto saat-saat seru. Yah, moga yang sedikit ini kelak akan tetap abadi di hati dan dalam ingatan. Setidaknya...akhirnya kerinduan setelah lama berpisah akhirnya bisa juga terobati saat reuniiiiii.....


Horeee...akhirnya bisa reunian dengan wajah-wajah yang sudah kebanyakan jadi emak-emak
Reuni reeekkk...Kebidanan Sutomo angkatan 2006 di Maret Nur Pacific 2013


Proses kehidupan dari mahasiswi bidan menjadi bidan-bidan yang cemerlang
mengepak ke gugusan mimpi dan cita-cita di mayapada

berpisah dan bertemu adalah fitrah kehidupan
namun persahabatan kita tak aan tergantikan

tak ku tahu perjalanan hidup kita
tak selamanya ia berwarna jingga
jika ia punya biru
yang kutahu adalah dirimu
selalu menjadi istimewa di hatiku
kini, esok dan selamanya...#metamorb-2013


Semoga aku bisa kembali memegang 'pena' sebenarnya para bidan
yang penuh ketelatenan
saat membimbing persalinan
saat menerima kepala janin yang menemukan kehidupan
dan saat ini yang menjadi list kewajiban
adalah tetap menjadi yang bermanfaat dengan berbagai jalan
agar Allah tetap berikan keridhoan
meski dengan skenario yang berlainan
tetap mengepak dengan sayap kesabaran
bertebaran di muka bumi dengan menjadi lebah (kebaikan)"bee-done"


penaviana / @vianawahyu
Depok, 24 Juni 2014
"Dirgahayu Bidan Indonesia"





#Foto-foto diambil dari google dan koleksi pribadi

Sabtu, 21 Juni 2014

Berjama'ah itu...





Berjama'ah mungkin membuat luka
berjama'ah mungkin menggurat kecewa
berjama'ah mungkin menerbitkan lara
berjama'ah mungkin pedih tiada tara
berjama'ah mungkin tersiksa
berjama'ah mungkin mencabut tawa
berjama'ah mungkin bertabur derai air mata

tapi...
berjama'ah membuat kita terlatih ditempa
berjama'ah membuat kita saling mengingatkan taqwa
berjama'ah membuat kita mempositifkan prasangka
berjama'ah membuat kita belajar menerima
berjama'ah membuat maaf jadi jalan menambah saudara
berjama'ah membuat keikhlasan tak sekedar kata
berjama'ah membuat kita paham makna menabur asa
berjama'ah membuat kita menabur doa
berjama'ah memang bukti ukhuwah dunia nyata
tak sekedar getas dunia pena
atau kecap dunia maya




maka...
bagaimana kau bisa tertatih di dunia
jika saudara tak lagi kau anggap ada
jika saudara bukan lagi teman saling berbagi rasa
jika sendiri lebih membuatmu bahagia 




sedang masa pasti bicara
saat kita menuai semua cerita

saat waktu bukan kuasa dirimu yang hina
saat lidahmu tak mampu berkata
saat langit bukakan buku mayapada
saat itu menyesal menyapa
saat itu bulir tangis tiada guna
pun doa tiada lagi bermakna

berjama'ah itu luka
berjama'ah itu busur warna
berjama'ah itu jalan surga...



^Viana Wahyu^
kota idaman, 24 Sya'ban 1435 H :07.07 teriring rindu untuk semua ikhwah..."Luv yu all coz Allah, may Allah permit us be togeter in jannah"

Foto-foto diambil dari Google