Rabu, 03 Oktober 2012

Kata-kata indah tentang kesabaran

ket foto : lokasi di Masjid Kubah Emas, Depok, Jabar

Sabar itu...
Satu kata bermilyar makna

Sabar itu...
Jalan panjang tanpa ujung
Jalan yang tak mulus, namun berliku dan penuh perjuangan

Sabar itu...
Ruang tanpa tepi dalam naungan keimanan

Sabar itu...
Tunduk pada skenarioNya
Sebab sayangNya tak hanya berupa senyum bahagia,
Kadang ia berupa tangis penuh lara

Sabar itu...
Tak ada sekolahnya selain dengan menjalani kehidupan itu sendiri

Sabar itu...
Yakin bahwa Allah itu adil
Sebab Allah tak akan memberikan soal ujian tanpa kunci jawaban

Sabar itu...Indah ^_^

*Viana*
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Selasa, 02 Oktober 2012

Resep Camilan Bakwan Tahu


Sore-sore hujan pula...hmm enaknya dingin-dingin gitu ngemil makanan yang anget-anget ditemani teh dan ananda tercinta* Ayah masih di kantor sih hihi.

Akhirnya nemu tahu kuning di kulkas. Mulailah beraksi membuat bakwan tahu atau ada yang menyebut perkedel tahu atau malah dadar tahu. Hehe apapun namanya lah, yang penting bahan tak jauh beda, dan ketika dimakan rasanya juga tetep ada tahunya. Ya kan?

Resep bakwan tahu (ini resep sendiri alias ngarang, bisa dimodifikasi suka-suka juga hehe) :
* 5 biji Tahu --> tadi pakai tahu kuning, tahu putih juga bisa. Tahunya bisa dikukus dulu atau masih mentahan. Hanya kalau tahu kuning dia mengandung garam lebih banyak dibanding tahu putih.
* Wortel --> iris tipis bentuk korek api, besar sesuai selera
* Sayuran lain » tadi nemu taoge karena kubis dah habis. Kecuali tauge sayurnya diiris tipis kayak wortel
* daun bawang diiris tipis
* 1 butir telur ayam, kocok lepas
* terigu secukupnya sampai adonan nanti tercampur
* minyak goreng

Bumbu halus:
* bawang merah
* bawang putih
* gula dikiiit
* garam dikit

Cara membuat:
1. Haluskan tahu (kalau bundanya Azzam alami aja, ngalusinnya pakai uleg-uleg batu hehe)
2. Uleg bumbu halus lalu campur ke tahu yang sudah dihancurkan.
3. Campur dengan sayuran, wortel, tauge daun bawang
4. Tambahkan kocokan telur
5. Campur rata adonan sambil ditambahkan terigu sedikit-sedikit hingga adonan menyatu.
6. Goreng sampai berwarna keemasan.
Siap disantap deh. Mudah dan maknyus kan? :)
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Senin, 01 Oktober 2012

Rindu Tanah Kelahiran


Pernahkah berpikir bahwa kita memiliki ikatan yang erat dengan tanah kelahiran kita (selain ikatan dengan keluarga kita tentunya). Dan pernahkah berpikir bahwa kelahiran kita di suatu tempat adalah sebuah 'misi' dari Tuhan dengan kehadiran kita.

Pikiran seperti ini terlintas saat aku merasakan kerinduan pada tanah kelahiranku. Dan sekitar 23 tahun lamanya aku tinggal di sana, dipotong dengan beberapa tahun aku kuliah dan kerja. Waktu selama itu telah memahat kenangan begitu banyak dan sulit dilupakan. Entah bagi kawan-kawan yang cuma 'numpang' lahir di suatu tempat, apakah rasa rindu itu bisa hadir pula?

Dan, saat jauh dari Ngawiku, tanah kelahiranku yang berada di ujung barat Jawa Timur, aku benar-benar menyesaaallll. Huhuhu...rasanya ingin segera terbang ke sana. Bagaimana tidak, foto-foto saat masa kecilku yang mengalami 2x pindahan di rumah dinas bapak di tengah sawah banyak yang ludes terhanyutkan oleh banjir Ngawi. Bahkan kenapa dulu aku tak banyak mengabadikan momen-momen indah saat TK, SD, SMP dan SMA yang masing-masing memiliki kenangan tersendiri sesuai masanya.

*BERDAMAI dengan RASA
 

Yahh, pada akhirnya aku bisa meredakan rasa rindu dan menyesal ini...kalau banjir memang itu di luar kuasa. Saat banjir melanda Ngawi tahun 2007 aku sedang di Surabaya, yang tinggal di rumah hanya ibu dan bapak. Ketika air kiriman itu menggenangi semeter rumah kami, barang-barang kecil atau buku dan majalah koleksiku sejak SD tak terselamatkan.

Sedang kenapa tak banyak foto yang bisa kumiliki karena saat itu gadget canggih belum mampu kumiliki. Meski bapak punya camera, tentu bukan hal bijak jika ke sekolah aku menenteng kamera. Apalagi aku kenal handphone juga baru saat kuliah semester 1, itupun ga pakai fitur camera. Jadi ya jaduuul banget deh.
Gapapa deh, kenangan yang terlihat itu mungkin perlahan memudar, namun kenangan yang tersimpan di hati akan selalu tumbuh dan kian mekar seiring pertambahan usia. Hingga tiba masanya nanti aku akan bercerita pada anak cucu bahwa bunda atau neneknya ini adalah seorang gadis (yang dulu) kecil berasal dari kota kecil di bawah Gunung Lawu.


# saat rindu yang amat sangat pada Ngawiku, tanah kelahiranku. Setting tentang Ngawi telah kuabadikan pada novelku, semoga bisa segera terbit. Aamiin :)
 

Powered by Telkomsel BlackBerry®




Ya Allah, beri aku satu saja di majalah Femina

Alhamdulillah, buku antologiku dan kawan-kawan, "Ya Allah, beri aku satu saja" diresensi media lagi. Kali ini nampang di majalah Femina.

Huhuhu sayang waktu itu ga kebagian majalahnya (edisi 15 bulan Agustus-September). Gapapa lah sing penting bukunya bisa mejeng di majalan kaum hawa yang dah terkenal* padahal yang nulis juga pengen nampang hihihi.

So, karena buku ini sudah semakin sulit dicari di Gramed (atau malah sudah ditarik hiks) buku yang berisi kisah-kisah penantian buah hati beserta ulasan medis dan tips-tips keren ini masih bisa didapatkan di tobuk-tobuk online lho. Semoga keberadaannya menebar manfaat untuk umat. Aamiin
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Ya Allah, beri aku satu saja diresensi majalah Femina