Sabtu, 24 Desember 2011

Resensi "Galaksi Kinanthi"

“Kalau kamu mau cari aku, kamu lihat saja ke langit sana, Thi. Cari Gubuk Penceng.
Di bawahnya ada galaksi yang tidak trelihat.
Namanya Galaksi Cinta. Aku ada di situ.” (halm. 50)

Kutipan kalimat di atas adalah kalimat yang sering muncul dan berkaitan dengan judul novel yang mampu membuat saya penasaran hanya dari cerita Mamah Linda dan Mba Riawani. Atas kebaikan hati Mamah Linda lah (saya sudah muter-muter ke tobuk OL dan ofline tanpa hasil) akhirnya saya bisa memegang dan menyelami Galaksi Kinanthi, novel roman yang ditulis oleh Tasaro GK.

Baik, mari mengupas novel yang kini telah hilang dari peredaran dan kabarnya sedang ada new versionnya.

Bicara alur, novel ini memilih alur campuran. Bab pertama adalah sekelumit kehidupan Kinanthi Hope, sang tokoh utama di masa kini yang telah sukses menjadi seorang profesor kedokteran dan tinggal di Amerika. Lantas bab berikutnya menguliti satu demi satu masa lalu Kinanthi hingga kembali lagi ke masa kini. Kinanthi yang berasal dari sebuah daerah tandus, yakni Gunung Kidul (saya pun mengira nama GK di belakang nama Tasaro berarti Gunung Kidul, hehe). Kondisi keluarganya yang carut marut membuat ia dan keluarganya dikucilkan oleh seluruh warga desa. Hanya Ajuj, seorang pemuda yang hampir sebaya dengannya saja yang mau bergaul dengannya, pemuda yang dewasa dan pemberani untuk ukuran anak SD. Dimana ada Kinanthi, di situ ada Ajuj. Semua orang pun tahu itu. Dan semua orang sepertinya ingin memisahkan kebersamaan mereka. Saat itu hati mereka saling terpaut, namun masih lugu untuk memahami bahwa itulah cinta.

Kinanthi harus menerima lakon hidupnya, ia “dijual” oleh orang tuanya dengan ditukar lima puluh kg beras ke makelar penyalur pembantu rumah tangga di Bandung. Di sini ada adegan yang mengharu biru saat Kinanthi yang baru lulus SD direlakan pergi oleh kedua orang tuanya dengan alasan ingin membahagiakan Kinanthi, ada tangisan, pemberontakan, bahkan saat hanya pada Ajuj-lah harapannya bisa terbebas dari misi penjualan dirinya itu, mereka pun akhirnya terpisah. Ajuj mengejar mobil yang membawa Kinanthi hingga tangannya dan tangan Kinanthi berpaut dengan batas kaca mobil belakang. Sungguh dramatis.

Sejak di Bandung itulah Kinanthi tercabik-cabik perasaannya karena terpisah dengan Ajuj dan harus berpindah-pindah tempat penampungan sebelum akhirnya ia dilempar ke Arab. Ia menjadi salah satu TKW di sana. Kenyataan pahit ia terima seperti gambaran para TKW kita yang tak lekang dari siksaan di bumi gurun itu. Dari Arab ia pindah ke Kuwait hingga akhirnya ke Amerika, berpindah-pindah majikan yang tak satupun memperlakukannya sebagai manusia, sungguh perbudakan itu masih ada.

Rupanya di Amerika itulah penderitaannya berakhir, berganti menjadi sebuah kebebasan hingga ia meraih gelar Profesor dan namanya menjadi Kinanthi Hope. Hope yang berarti sebuah kata hatinya tentang hari esok yang lebih baik, tentang harapan yang membuatnya bertahan hidup meski kehilangan banyak hal, termasuk Ajuj. Namun cintanya pada Ajuj tak hilang selama sekian lama.

Hampir dua puluh tahun sejak terpisahnya Kinanthi dan Ajuj akhirnya mereka bertemu kembali di Gunung Kidul. Akankah perbedaan yang bagai jurang antara Kinanthi yang telah bergelimang kemapanan dan pikiran yang luas serta moderat sebagai profesor berkebangsaan Amerika dengan Ajuj yang tetap seorang laki-laki sederhana sama seperti masa kecilnya, hanya lulus Tsanawiyah dan ingin mengabdi di Gunung Kidul sebagai pengeruk gamping bisa bersatu?

Endingnya? Wah, bagi yang belum baca silahkan menikmati aneka rasa yang disajikan Tasaro dengan apik. Dijamin tak menyesal menikmati kisah Kinanthi yang bersumber dari kisah nyata ini hingga lembar terakhir.

Mari bicara setting, kita akan benar-benar berada di tempat saat Kinanthi melalui hari-harinya lewat tulisan Tasaro yang cerdas. Gambaran tandusnya Gunung Kidul “Udara panas berdebu, pohon-pohon Randu yang meranggas. Aspal jalan yang telah menutupi sebagian jalan berbatu, namun bolong di sana-sini. Banyak rumah gedhek (bambu) berseling papan tua yang ringkih. Sedikit gempa bumi sudah cukup membuatnya roboh.” (Hal. 294). Atau tentang sabana di Amerika yang entah telah didatangi oleh Tasaro atau belum namun observasi yang mendalam membuatnya tampak hidup, kita pun jadi ikut berpetualang di sana.

Sedikit catatan dari novel ini yakni adanya ketidaknyamanan dengan nama-nama Islami yang digunakan sebagai majikan-majikan Kinanthi, beberapa di antaranya Azzam, Zaskia (kalau Azzam nama anak saya hehe). Mungkin memang nama tidak selalu mencerminkan orangnya ya, tapi kalau saya cenderung memilih nama sesuai karakter tokoh, misalnya jahat ya Abu Jahal hehe. Salah satu catatan lagi yakni ketika Kinanthi menghadapi vonis di Pengadilan Miami. Opsi yang seharusnya ia dapat yakni dideportasi atau malah dihukum, tapi entah bagaimana tiba-tiba Kinanthi diputuskan mendapat beasiswa sekolah, mendapat tempat tinggal, mendapat tunjangan-tunjangan dan hak kebebasan beragama. Mungkin karena pengetahuan saya tentang kondisi di negeri Paman Sam tersebut terbatas sehingga tidak bisa dengan mudah menangkap keterangan yang tersirat.

Namun hal yang sangat saya suka dari novel ini adalah kisah cinta “monyet” antara Ajuj dan Kinanthi (jadi ingat kisah cinta monyet saya, hihi). Wow, hebat nian bisa terus berakar hingga mereka dewasa dalam bentangan jarak antar benua, tanpa komunikasi sama sekali, tak ada surat, telepon apalagi sms. Kunci yang menyatukan cinta mereka untuk terus setia adalah kata “Galaksi Cinta”. Galaksi yang berada di langitNya, langit yang menjadi pelarian ketika bumi tak lagi nyaman, namun yang kutangkap, langit bukan semata langit, namun Allah lah yang menjadi kunci sebenarnya cinta mereka, dengan memakai diksi “Galaksi” ^_^ .

Judul buku          : Galaksi Kinanthi
Penulis               : Tasaro GK
Penerbit             : Salamadani
Cetakan             : Kedua, Pebruari 2009

0 komentar:

Posting Komentar