Kamis, 28 Juli 2011

Cerita Menarche*ku


Menstruasi Pertama
By: VianaWahyu
Kata menstruasi kudengar pertama kali lewat teman-temanku SD, baik yang laki-laki atau perempuan, bukan dari orang tuaku apalagi ibuku. Aku tahu tentang mens ketika ada seorang teman perempuan di SD yang ketika dia berdiri dari duduknya roknya yang merah tampak basah. Rupanya ia tak tahu kalau akan mendapat menstruasi pertama (Menarche, istilah kedokterannya). Parahnya lagi, aku tahu bagaimana jika mens ketika teman laki-laki ribut di belakang sekolah, dekat toilet, saat ada pembalut yang masih merah terapung di kolam sekolah.


Malahan, aku sempat nanya apa itu mens pada bapakku, sayangnya aku keliru bertanya kosakatanya, bukan menstruasi yang kutanyakan namun menopause. Saat itu jawaban bapak tidak bisa kupahami (lha wong masih sekuprit pas SD).

Menstruasi bagi kami yang masih imut-imut dengan seragam merah putih waktu itu, memang hal yang baru dan menarik. Sejak insiden merahnya rok merah teman perempuanku dan terapungnya sebuah pembalut, teman-teman laki-laki sering meledek kami yang perempuan dengan kata-kata “halah..men ngono” yang artinya “halah...sedang mens gitu..” meskipun saat itu kami yang perempuan tidak sedang mens. Kontan saja hal itu membuat kami, para gadis imut, jadi bersemu merah karena biasanya hal itu dilontarkan di hadapan khalayak ramai (kami suka main atau duduk bergerombol).

Bukan itu saja, karena kebanyakan teman-teman laki-laki baru khitan saat kelas 5 atau 6 SD, mereka suka meledek dan mendekatkan tubuh mereka ke kami, sambil berujar bahwa jika seorang perempuan telah mens maka bila berdekatan dengan seorang yang baru dikhitan bisa hamil. Belum lagi, tingkah mereka yang suka aneh-aneh dengan suka membuka rok kami atau bahkan menyentuh dada kami. Ah, untunglah aku ketika sekolah selalu mengenakan celana pendek sebagai dalaman jadi aman dari tangan-tangan jahil, juga aku selalu sigap ketika ada teman laki-laki yang mendekat mengarahkan tangan ke dadaku.

Aku sendiri termasuk satu di antara teman-temanku yang belum mendapatkan haid saat itu.  Aku sering bertanya pada teman yang telah mens, “apakah sakit jika berdarah?” Dan memang aku tak berani untuk bertanya hal ini pada orang tuaku, khususnya ibuku. Namun di balik ketidak tahuanku aku tak gelisah meski belum mens, karena memang hampir separuh teman perempuanku belum mens. Hanya saja, aku pingin merasakannya. Kadang aku sering melihat celana dalamku saat sendiri “Oh, belum berdarah ya..?”


Awalnya, ada laporan dari seorang teman yang memberi tahu bahwa ada sepasang kakak kelas kami yang melakukan percintaan di sebuah ladang. Kontan saja, kami yang sedang masa puber tertarik ingin mengetahui. Sesampainya di ladang yang disebutkan, tak ada hal yang kami cari. 

Padahal kami tak faham bagaimana itu bercinta, yang kami tahu hanya saling menjodohkan antar teman laki dan perempuan, olok-olokan. Hanya tahu jika seorang perempuan yang telah menstruasi bisa hamil jika berdekatan dengan laki-laki yang telah dikhitan. Dan semuanya itu kami tahu bukan dari orang tua atau guru kami. Kami tahu dari fenomena yang ada di sekeliling kami. Bersyukur sekali saat kami SD, belum kenal namanya handphone apalagi film blue (sekolah di desa gitu)., apa jadinya jika pas kami sedang masa pencarian dan ingin tahu dengan perubahan yang kami alami terus terbawa dengan hal-hal porno tersebut.

Saat SMP pun aku masih belum merasakan bagaimana rasanya jika berdarah. Padahal ketika kelas satu SMP kami mendapat pembinaan reproduksi dari sebuah merk pembalut wanita terkenal. Usai pembinaan kami mendapat sebuah paket berisi pembalut. “Ah, kapan aku memakainya?” batinku. Aku hanya menyimpannya, menunggu saat yang kunanti itu tiba.

Sering jika istirahat sholat dhuhur aku iri dengan teman-temanku yang berkata “sedang dapat dispensasi ga sholat..” atau “sedang M”. 

Akhirnya kelas dua SMP, sepulang sekolah, aku mendapati di celanaku ada flek merah. Ahh, betapa senangnya hatiku.

Aku pun berkata pada ibu bahwa celanaku merah. Ibuku pun senang dengan kabar tersebut,
“Selamat ya nak, kamu telah dewasa...”ibu memelukku dan memberitahukan padaku bagaimana cara memakai pembalut. Waduh, ibu..di sekolah aku telah mendapat ilmu tersebut bahkan sejak SD dari teman-temanku, batinku.

Hari-hari berikutnya menjalani menstruasi pertama amat menyenangkan bagiku, akhirnya aku bisa merasakan bagaimana jika berdarah, memakai pembalut dan bisa absen saat teman-temanku sholat dhuhur di sekolah. Ahayy...hidup jadi makin berwarna, ditambah lagi alhamdulillah aku tak merasakan nyeri mens seperti kebanyakan teman-temanku. Ternyata memang ibuku pun tak pernah mengalami nyeri haid, makanya aku pun mendapat turunannya, pun saat ibuku haid pertama adalah ketika kelas satu SMA, wajar saja jika akhirnya aku pun juga mendapat menstruasi ketika SMP, di saat teman-temanku telah mengalami mens waktu SD.

Tak ada yang bergejolak sejak aku mendapatkan menstruasi, kecuali lontaran-lontaran cinta monyet dari teman seusiaku atau kakak kelas. Hampir saja aku menerima tembakan cinta (monyet) ketika akhirnya Allah menunjukkan hidayahnya padaku. Aku kenal dunia mengaji, pendalaman ilmu Islam. Yang pastinya tak ada kamus pacaran sebelum atau selain dengan menikah. Bye..bye..surat cinta dan orang-orang yang menembakku hehehe...

Hingga akhirnya kelas satu SMA aku menetapkan diri untuk berjilbab dan aktif di Rohis (Kerohanian Islam). Kegiatan yang full membuatku tersibukkan dengan beragam amanah yang membuatku sering berangkat pagi-pagi, pulang selalu jelang maghrib (waktu pulang sekolah adalah jam tiga sore, usai mengikuti bimbel wajib di sekolah), ditambah dengan kegiatan ekstrakurikuler yang lain plus bimbel malam hari di sebuah LBB ternama.

Semua itu membuatku melupakan bahkan tak peduli dengan menstruasiku. Sampai suatu ketika,

“Vi, kamu belum mens selama tiga bulan ya?” Ibu tiba-tiba menanyaiku sepulang dari sekolah.

“Ngg...iya sepertinya, bu” Aku mencoba bersikap biasa. Namun akhirnya aku melangkah mengecek catatan menstruasiku. Benar tepat tiga bulan aku tak disambangi oleh tamu bulananku. Ya Robbi, pantas saja ibu khawatir.

“Iya, bu..tiga bulan telat...”kataku datar.

“Vi...kamu tak pernah diapa-apakan sama laki-laki kan??” kata Ibu memelukku, terlihat jelas kekhawatiran di matanya. Wajar saja ibu khawatir dengan aktivitasku yang pulang selalu jelang maghrib.

Akhirnya saat itu juga ibu dan bapak berencana membawaku ke dokter kandungan. Awalnya aku menolak karena aku memang tak merasakan ada yang sakit atau diapa-apakan oleh laki-laki.

“Bu, demi Allah, Vi tak pernah disentuh oleh laki-laki...”kataku berharap niat untuk pergi ke dokter kandungan dibatalkan. Namun, sia-sia saja upayaku. Toh akhirnya aku berharap dokter bisa membuktikan bahwa aku masih suci, tak dinodai oleh laki-laki manapun.

“Bu, ini anaknya cuma kecapekan dan stress saja...tidak ada apa-apa.” Kata dokter Susi usai memeriksaku. Alhamdulillah aku tak diminta memelorotkan celana, hanya diperiksa perut bagian bawahku dan aku tak merasakan sakit saat pemeriksaan itu dilakukan.

“Oh begitu ya, dok? Alhamdulillah kalau begitu...saya ini khawatir kalau anak gadis saya kenapa-kenapa..” kata Ibuku sumringah.

Aku diberi sebuah vitamin (kata dokter) untuk melancarkan haidku. Benar saja, baru semalam minum, besoknya dah menstruasi. Belakangan saat aku kuliah di kebidanan, ku tahu bahwa vitamin yang dimaksud dokter adalah pil kb !! Olala...


TIPS:
  1.  Upayakan anak mendapat pendidikan menstruasi dan seks sedini mungkin. Akan lebih baik jika mereka tahu dari orang tuanya sendiri, bukan lewat teman atau VCD blue.
  2.  Awasi anak perempuan kita saat mereka telah mendapatkan menarche atau menstruasi pertama, pergaulan zaman sekarang sudah sangat dewasa sekali dan mudah diakses dengan mudahnya.
  3. Pakailah pembalut jika mendekati jadwal menstruasi, hal ini untuk menghindari tembus ke rok saat menstruasi datang.
  4. Catatlah selalu kapan menstruasi kita, hal ini akan sangat bermanfaat ketika telah menikah dan hamil untuk menentukan usia kehamilan dan taksiran persalinan atau untuk pemeriksaan kandungan yang lain.
  5. Banyaklah beramal saat mens, meskipun tidak boleh sholat dan mengaji, namun doa-doa dalam al Ma’tsurat sangat efektif menjaga jiwa kita, apalagi secara Islam, wanita yang mens mudah sekali diganggu syetan.

1 komentar:

  1. ugh..pasti menyebalkan.tapi beneran deh mbak vi.temen sdnya over kurang ajar.coba dia temen sdku, pasti gak berani macam2 sama aku.soale aku bongsor pas sd dan gualak, tapi ga suka bully ya.hehehe...secara..dulu jadi ketua kelas juga.

    sama cerita mens yg terlambat itu lucu bgt.maybe karena ortu gak ada bg pendidikan kesehatan ya mbak vi, jd ga tau.kalo bapak ibuku perawat, jd udah tau dan ga khawatir saat anaknya telat datang bulan disaat gadis.xixixi

    BalasHapus