Kamis, 29 Juli 2010

Surat Cinta Sang Belahan Jiwa



untuk sang penakluk hatiq
yang memiliki ketulusan...
keikhlasan...
kesabaran..
yang padanya aq bisa berkeluh kesah..
bersama di saat q bahagia...
di sampingq saat q susah..

alhamdulilllah..
q dapat bersamamu dalam mengarungi samudera hidup ini
moga ikatan cinta qt dapat mengantarkan hingga ke JannahNya

" met milad sayaaank"
moga jadi umur barokah
tetep jadi istriq yang sholihah, perhatian n pengertian..
moga tetep jadi bunda tangguh n sabar dalam mendidik n mencerdaskan anak2 qt nanti..
moga bisa jadi mutiara keluarga...Amin

---written by my lovely husband one hour before 25th of july after he came from Yogya---

Alhamdulillah...
atas semua nikmatMu ini Ya Allah
moga kebahagiaan kami juga merupakan kebahagiaan bumi dan langit
kebarokahan yang kami rasakan juga bisa dirasakan orang lain
dan cinta kami semoga selamanya Engkau ridhoi seperti cinta Ali dan Fatimah Az Zahra
dalam membangun peradaban robbani bersama jundi-jundi
yang Engkau amanahkan pada kami...

Love u my husband n my child...

Jangan Takut Punya Anak !!


Sudah hampir setahun menikah tapi pasangan suami istri itu belum dikaruniai anak. mereka adalah temanku, namun aku lebih dulu menikah dan alhamdulillah pada ulang tahun pernikahan kami yang pertama kami sudah dikaruniai seorang putera yang cakep.

Pada awal-awal pernikahan mereka, sang perempuan pernah kutanyai apakah sudah "isi" atau belum? Dia menjawab "masih pingin senang-senang dulu, mau pacaran dulu" Ya sudahlah akhirnya aku pun ikut tersenyum melihat isa tersenyum.

Hingga kini ketika mereka sudah sangat ingin punya anak, apalagi saat melihat kami bermain dengan si kecil, mereka tak kunjung juga ada tanda-tanda ada kehamilan pada sang perempuan.

Hingga suatu ketika aku berbincang-bincang dengan nenek tentang anak dan keluarga. Ada hal yang mengagetkanku dengan pernyataan beliau, "jabang bayi itu tahu kalau ia belum dikehendaki orang tuanya, jadi jangan pernah main-main dengan kata2 pingin menunda anak karena pingin ini-itu...biasanya Allah akan mengabulkan kata2 mereka."

Cerita nenek : "Pernah juga ada pasutri yang ia bilang, ga mau punya anak dulu sebelum ia punya rumah sendiri." 5 tahun mereka belum juga bisa punya rumah, 10 tahun juga belum bisa punya rumah, hingga akhirnya jelang pensiun mereka baru punya rumah. Di usia yang sudah rawan untuk punya anak mereka menyesal dengan pernyataan mereka dulu, yang akhirnya membuat meraka harus mengadopsi anak.

‘Janganlah kamu membunuh anak anakmu karena takut miskin. Kami akan memberikan rizqi kepadamu dan kepada mereka.’ ( QS. Al-An’am: 151)

Maka tiap anak pasti punya ruzqi, dan kita sebagai orang tua tak boleh takut tak bisa menghidupi anak yang merupakan amanah Allah. Tiap yang terlahir sudah memiliki catatan tentang jodoh, rizqi, hidup dan matinya. Maka tugas kita sebagai orang tua adalah mengupayakan seoptimal mungkin perjuangan kita agar anak-anak kita tetap bisa hidup layak.

Hak-hak Anak dari Orangtuanya

Berdasar ayat-ayat Al-Qur`an, hadits Rasulullah saw, maupun atsar shahabat, di antara hak-hak anak adalah sebagai berikut:

1. Hak untuk hidup.
Allah SWT. Berfirman yang artinya :
‘Janganlah kamu membunuh anak anakmu karena takut miskin. Kami akan memberikan rizqi kepadamu dan kepada mereka.’ ( QS. Al-An’am: 151)

2. Hak mendapat nama yang baik.
Pemberian ‘nama yang baik’ bagi anak adalah awal dari sebuah upaya pendidikan terhadap anak anak. Ada yang mengatakan; ‘apa arti sebuah nama’. Ungkapan ini tidak selamanya benar. Islam mengajarkan bahwa nama bagi seorang anak adalah sebuah do’a. Dengan memberi nama yang baik, diharapkan anak kita berperilaku baik sesuai dengan namanya. Adapun setelah kita berusaha memberi nama yang baik, dan telah mendidiknya dengan baik pula, namun anak kita tetap tidak sesuai dengan yang kita inginkan, maka kita kembalikan kepada Allah s.w.t. Nama yang baik dengan akhlaq yang baik, itulah yang kita harapkan. Nama yang baik dengan akhlaq yang buruk, tidak kita harapkan. Apalagi nama yang buruk dengan akhlaq yang buruk pula. Celaka berlipat ganda.

3. Haq disembelihkan aqiqahnya
Menurut keterangan A. Hasaan ‘aqiqah adalah; ‘ menyembelih kambing untuk (bayi) yang baru lahir, dicukur dan diberi nama anak itu, pada hari ketujuhnya.
Rasulullah s.a.w. bersabda; ‘Tiap tiap seorang anak tergadai dengan ‘aqiqahnya. Disembelih (‘aqiqah) itu buat dia pada hari yang ketujuhnya dan di cukur serta diberi nama dia.’ (Diriwayatkan oleh Ahmad dan Imam yang empat dan dishahihkan oleh At Tirmidzy, hadits dari Samurah ).

4. Hak menerima ASI (dua tahun)
Allah ta’ala berfirman; “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada kedua orang ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun…dst” . ( QS: 31; 14 ).
Artinya, Allah memberi kesempatan kepada ibu seorang anak untuk menyusui anaknya, paling lama dua tahun. Boleh kurang dari dua tahun selama ada alas an yang dibenarkan.

5. Hak makan dan minum yang baik.
Rasulullah s.a.w. bersabda;
‘Cukup berdosa orang yang menyia nyiakan ( tanggung jawab) memberi makan keluarganya.’ ( HR Abu Daud )

6. Hak diberi rizqi yang ‘thayyib’.
Rasulullah s.a.w. bersabda;
Dari Abu Rafi’ r.a., telah berkata; Telah bersabda Rasulullah s.a.w. ‘Kewajiban orang tua terhadap anaknya adalah mengajarinya tulis baca, mengajarinya berenang dan memanah, tidak memberinya rizqi kecuali rizqi yang baik.( HR Al Hakim )

7. Hak mendapat pendidikan Agama
Rasulullah s.a.w. bersabda;
‘Tiap bayi dilahirkan dalam kadaan suci ( fithrah Islamy ) . Ayah dan Ibunyalah kelak yang menjadikannya Yahudi, Nashrany, atau Majusyi.( HR Bukhary )
Mendidik anak pada umunya baik laki laki maupun perempuan adalah kewajiban bagi kedua orang tuanya. Dan mendidik anak perempuan mempunyai nilai tersendiri dari pada mendidik anak laki laki. Boleh jadi karena mereka adalah calon Ibu rumah tangga yang bakal menjadi ‘Madrasah’ pertama bagi anak anaknya’. Boleh jadi juga karena kaum wanita mempunyai beberapa keitimewaan atau ke khassan tersendiri., sehingga di dalam Al Qur aan pun terdapat surat An Nisa, tetapi tidak ada surat ‘Ar Rijal’. Wallaahu a’lam.
Rasulullah s.a.w. bersabda;
‘Barang siapa mempunyai dua anak perempuan dan dia asuh dengan baik maka mereka akan menyebabkannya masuk surga. ( HR Al Bukhary )
Mengenai kekhassan kaum wanita, antara lain Rasulullah s.a.w. bersabda; ‘Wanita itu bagaikan tulang rusuk. Apabila anda biarkan begitu saja, dia akan tetap bengkok. Namun apabila anda luruskan sekaligus, dia akan patah’.

8. Hak mendapat pendidikan sholat

9. Hak mendapat tempat tidur terpisah antara laki laki dan perempuan
Islam mengejarkan ‘hijab’ sejak dini. Meskipun terhadap sesama Muhrim, Bila telah berusia tujuh tahun tempat tidur mereka harus dipisahkan.
Rasulullah s.a.w. bersabda;
‘Suruhlah anak anakmu sholat bila berumur tujuh tahun dan gunakan pukulan jika mereka sudah berumur sepuluh tahun dan pisahlah tempat tidur mereka ( putra putri ).
Maksudnya, kewajiban mendidik anak untuk mengerjakan sholat dimulai setelah anak berumur tujuh tahun. Bila telah berusia sepuluh tahun anak belum juga mau mengerjakan sholat, boleh dipukul dengan pukulan ringan, yang mendidik, bukan pukulan yang membekas atau menyakitkan.

10. Hak mendapat pendidikan dengan pendidikan adab yang baik.
Banyak anak terpelajar, namun sedikit anak yang ‘terdidik’. Banyak orang pandai, namun sedikit orang yang taqwa’. Islam mengutamakan pendidikan mental. ‘Taqwa itu ada disini’, kata Rasulullah seraya menunjukkan kearah dadanya. Artinya hati manusia adalah sumber yang menentukan baik buruknya perilaku seseorang. Nabi tidak menunjukkan kearah ‘kepalanya , tapi kerah dadanya.

11. hak mendapat pengajaran dengan pelajaran yang baik
Berkata shahabat ‘Aly r.a.;
‘Ajarilah anak anakmu. Sesungguhnya mereka diciptakan untuk zaman yang berbeda dengan zamanmu.

12. Hak mendapat pengajaran Al Qur’an
Rasulullah s.a.w. bersabda;’Sebaik baik kalian adalah barang siapa yang belajar Al Qur’an dan mengajarkannya’. Pengetahuan tentang Al Qur’an harus lebih diutaman dari Ilmu ilmu yang lainnya. Nabi s.a.w. bersabda; ‘Ilmu itu ada tiga macam. Selainnya adalah sekedar tambahan. Adapun yang tiga macam itu ialah; Ilmu tentang ayat-ayat ( Al Qur’an) yang muhkamat, ilmu tentang Sunnah Nabi, dan ilmu tentang pembagian warits. ( HR Ibnu Majah ).

13. Hak mendapat pendidikan dan pengajaran baca tulis
Rasulullah s.a.w. bersabda;
Dari Abu Rafi’ r.a., telah berkata; Telah bersabda Rasulullah s.a.w. ‘Kewajiban orang tua terhadap anaknya adalah mengajarinya tulis baca, mengajarinya berenang dan memanah, tidak memberinya rizqi kecuali rizqi yang baik.( HR Al Hakim )

14. Hak mendapat perawatan dan pendidikan kesehatan.
Rasulullah s.a.w. bersabda; ‘Jagalah kebersihan* dengan segala usaha yang mampu kamu lakukan. Sesungguhnya Allah Ta’ala menegakkan Islam diatas prinsip kebersihan. Dan tak akan masuk sorga kecuali orang yang memelihara kebersihan.
*Kebersihan adalah pangkal kesehatan. Mengajarkan kebersihan berarti secara tidak langsung mengajarkan kesehatan.

15. Hak mendapat pengajaran ketrampilan.
Islam memberantas pengangguran. Salah satu penyebab adanya panganguran adalah apabila seseorang tidak mempunyai ketrapilan tertentu. Bila dia punya ketrampilan tertentu, paling tidak bisa melakukan sesuatu yang berguna buat dirinya ataupun orang lain.
Rasulullah s.a.w. bersabda; ‘Sebaik baik makanan adalah hasil usaha tangannya sendiri’.
Dalam sabdanya yang lain beliau mengatakan;
‘Mengapa tidak kau ajarkan padanya ( anak itu ) menenun sebagaimana dia telah diajarkan tulis baca?’ ( HR An- Nasai )
Kalimat ‘menenun’ sebagai mewakili jenis jenis ketrampilan yang lain. Artinya tidak terbatas pada menenun saja. Kerajinan tangan apapun selama bermanfa’at dan tidak dilarang Agama adalah suatu hal yang ma’ruf.

16. Hak mendapat tempat yang yang baik dalam hati orang tua
Hilangkanlah rasa benci pada anak apa pun yang mereka lakukan, do’akan dia selalu, agar menjadi anak yang sholeh, santunilah dengan lemah lembut, shobarlah menghadapi perilakunya yang tidak baik, hadapi segalanya dengan penuh kearifan, jangan mudah membentak apalagi memukul tanpa alasan, tempatkan dia dengan ikhlash pada hati anda, belailah dengan penuh kasih sayang nasehati dengan santun. Satukan hati kita dengan anak anak. Semoga Allah menjadikan mereka ‘ waladun shoolihun yad’uu lahu’. Itulah harapan orang tua yang baik.
Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa ;
Seorang datang kepada Nabi s.a.w. dan bertanya; ‘Ya Rasulullah, apakah hak anakku ini? Nabi s.a.w. menjawab;’ Kau memberinya nama yang baik, memberi adab yang baik dan memberinya kedudukan yang baik ( dalam hatimu) ( HR At Tuusy )

17. Hak mendapat kasih sayang
Kecintaan orang tua kepada anak tidak cukup dengan hanya memberinya materi baik berupa pakaian, makanan atau mainan dan sebagainya. Tapi yang lebih dari pada itu adalah adanya perhatian dan rasa kasih sayang yang tulus dari kedua orang tua.
Rasulullah s.a.w. bersabda;
‘Bukanlah dari golongan kami yang tidak menyayangi yang lebih muda dan ( bukan dari golongan kami ) orang yang tidak menghormati yang lebih tua.’ ( HR At Tirmidzy )
sumber : http://revolusidamai.multiply.com/journal/item/525
________________________________________

Rabu, 14 Juli 2010

Cantik? Anda antrian pertama yang beruntung..!



Cantik !
Apakah jodoh itu hanya milik seseorang yang cantik? kali ini pembahasan hanya disoroti pada perempuan karena jumlah perempuan yang makin banyak yang belum menikah. Hmmm...rasanya tidak, sebab tiap manusia yang lahir ia sudah digariskan gendernya, jodohnya, rizqinya dan matinya. Namun kenapa fenomena yang sering kutemui adalah yang wajahnya "rata-rata ke bawah" sulit atau mungkin lama sekali mereka menemukan jodohnya...

Alhamdulillah aku sudah menikah. Aku merasa bukan karena cantik aku bisa lebih dulu dibanding teman-temanku, namun karena doa yang rajin kupanjatkan juga restu orang tua yang mendukung anaknya menikah cepat, kalaupun suamiku menikahiku karena juga merasa aku cantik semoga karena kecantikan jiwa yang lebih menonjol daripada kecantikan raga.

Pada dasarnya fitrah memang jika laki-laki ingin istri yang cantik, namun bukankah seperti sabda Rasulullah bahwa perempuan itu dinikahi karena empat hal, karena kecantikannya, nasabnya, kekayaannya dan agamanya; sedang yang mendahulukan pertimbangan agamanya maka ia akan beruntung dunia akhirat.

tak sedikit pula aku mendapat request untuk membantu mencarikan akhwat (perempuan) yang cantik sebagai kriteria pertamanya. Tak ada yang menjadikan kriteria penghafal quran, penulis handal, anak pertama yang jadi tulang punggung keluarga misalnya sebagai kriteria pertama...Hmmm jika seperti ini maka bagaimanakah nasib saudara perempuan kita yang "ga" cantik secara fisik..?

haruskah kita membiarkan saudara2 perempuan kita yang "kurang beruntung" sebagai antrian terakhir dari daftar akhwat yang pingin nikah?? Padahal ada banyak akhwat yang siap nikah, sedang ternyata ikhwannya bingung pilih-pilih.. ah, andai aku jadi murobi para ikhwan akan ku minta mereka memilih biodata dengan menutup mata sehingga tidak akan melihat kecantikan foto sebagai tolok ukur pertamanya...!