Senin, 12 Maret 2018

Jumlah Anak dan Jumlah Kebahagiaan

💖 *Jumlah Anak dan Jumlah Kebahagiaan* 🎁
Oleh : Viana Wahyu


Bismillaah


Pernah merasa kalau kumpul keluarga besar itu seru bukan main ketika lebaran ?

Atau merasa sepi-sepi saja baik di wa grup keluarga atau dunia nyata karena saudara hanya satu atau malah tak punya saudara sama sekali alias anak tunggal ?

Yang punya kakak atau adek banyak ngacuunggg 😃

Atau yang punya dan bercita-cita punya anak banyak ngacuunggg 😍


🍃Pada akhirnya, semua penilaian tentang anak akan berubah ketika ada orang tua kita yang tiada... 😭 Mari belajar bersama dari yang sempat tertuang berikut,


Jumlah anak dari masa kapan pun tetap hangat diperbincangkan. Jika pada masa lalu para buyut kita berbangga hati dengan jumlah anak yang banyak maka seiring perkembangan iptek dan mungkin juga kebutuhan ekonomi maka berkembang jumlah anak yang minimalis seiring dengan petak-petak rumah yang kian minimalis 😱


Fitrahnya, bila throwback pada kisah penciptaan Nabi Adam as dan Siti Hawa, manusia tak akan pernah bisa hidup sendiri dan tak akan pernah tenang hidup tanpa orang lain, apalagi yang dinamakan saudara (satu udara~satu rahim~satu darah)

Maka menjadi sebuah kebahagiaan bila manusia memiliki saudara yang banyak, kakak dan adik yang banyak, keluarga inti yang berjumlah banyak dan keluarga besar yang besar 😄


Halnya dengan yang namanya semakin banyak anak maka akan semakin banyak kesulitan, tentu hal ini tak selamanya benar. Benar jika artinya ialah semakin banyak anak maka akan semakin banyak kebutuhan. Menghidupi dan mencukupi 10 anak yang masih usia sekolah (sekolah juga makin mahal, cyiiin) tentu beda dengam kebutuhan 2 atau 1 orang anak saja. Akan butuh effort lebih dari para orang tua yang beranak banyak dibanding jumlah anak yang sedikit.


Dan pertanyaannya ialah apakah dengan banyak (dan pasti hiruk pikuk) anak dalam satu rumah maka hanya sedikit kebahagiaan yang ada ?


Berikut kata seorang pakar yang dikutip dari web theasianparents,

Penelitian terbaru dari Universitas di Australia menemukan bahwa orangtua paling bahagia adalah yang memiliki banyak anak. Menurut Dr. Bronwyn Harman dari Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial di Edith Cowan, hal ini masuk akal.

Dr. Harman telah meneliti lebih dari 5 tahun, tentang tipe keluarga macam apa yang paling bahagia. Ia mewawancarai ratusan orangtua dari berbagai macam latar belakang keluarga yang berbeda untuk mengukur ketahanan mereka, dukungan sosial, harga diri, dan kepuasan hidup.

Kejutannya adalah, ternyata kebahagiaan sebagai orangtua ditentukan oleh seberapa banyak upaya yang kita habiskan untuk keluarga. Orangtua dengan 4 anak atau lebih adalah yang paling puas dengan kehidupan mereka. Mereka lebih menikmati, daripada merasa kewalahan oleh kekacauan dalam keluarga besar mereka.


😄😄😃😃😃


Stres mungkin iya ya bun (colek emak2 sesama rempong 😄) dengan kondisi beban belajar anak sekarang (soal kelas 2 saja sudah seperti kelas 4/5 ya kan buun), rumah yang berantakan, anak yang belepotan dengan aksi mereka, anak yang rebutan 😅 daan sudah pasti harus minta maaf ke suami karena keruwetan hari itu ketika suami tiba di rumah.


Jika bunda mengalami hal di atas, itu wajar ko. Tapi yakinlah bahwa sunah Nabi-Nya pasti membawa hikmah untuk kita, “Menikahlah kamu, berketurunanlah, dan perbanyak keturunan, karena sesungguhnya aku akan bangga dengan jumlah kamu di antara umat yang lain (H.R. Abu Daud dan Nasa’i)_

Naah bukankah in sya Allaah semakin banyak anak kita maka akan semakin dekat kita dengan kecintaan Rasulullaah saw yang bangga dengan jumlah anak yang banyak.

Serta yang paling penting dari jumlah anak ialah, ketika orang tua kita tiada, bahkan ketika diri kita yang telah jadi orang tua tiada, maka terputuslah segala pahala amal kecuali ilmu yang bermanfaat, amal jariyah dan anak yang shalih.

Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)


Tentu saja dengan keberadaan anak semasa di dunia akan rugi jika kita tak menjadikan mereka sebagai sumber-sumber kebahagiaan di antara penat-penat kita. Dan berharap ketika raga sudah terpisah dari jiwa, kita akan selalu dekat dengan anak-anak kita dan kembali diijinkan berkumpul di surga-Nya.

Semua lantaran salah satunya doa anak-anak yang (kalu menurut saya) *semakin banyak anak semakin banyak yang mendoakan kita kelak, in sya Allaah*. _Yuk punya anak banyak_ 😍😄



Depok, 13 Maret 2018


Kamis, 27 April 2017

Blogaway test

Bismillaah...

Fajar dan lembayung
Datang dan hilang
Susah dan senang
Hanya rotasi yang berbilang

Ada dan tiada ragamu yang berbayang
Terjawab dengan kebaikan yang terkenang
Atau keburukan yang terus mengawang


⚘  Viana Wahyu ⚘ 

Depok, 27 April 2017 : kangen nulissss📝😄😀 testing via blogaway..


Senin, 24 Agustus 2015

Tips Hamil untuk Ummi-online

capture dari ummi-online.com



Bismillah,

Alhamdulillah tulisan perdana yang tayang di web ummi-online, http://www.ummi-online.com/7-hal-yang-perlu-dilakukan-untuk-mendapatkan-kehamilan.html

Semoga meski sedikit bisa menjadi refferensi dan bermanfaat buat sahabat yang merencanakan kehamilan pertama kali atau sedang menunggu buah hati. Moga Allah mudahkan.

Berikut cuplikannya,

Kepada-Nya lah dikembalikan pengetahuan tentang hari Kiamat. Dan tidak ada buah-buahan keluar dari kelopaknya dan tidak seorang perempuan pun mengandung dan tidak pula melahirkan, melainkan dengan sepengetahuan-Nya...” (QS Al Fussilat : 47)

Masih selalu mendapati hanya satu strip merah muda dari stick test pack ? Setiap bulan selalu diliputi harapan dan kecemasan jika terlambat bulan tapi tak juga bertemu dengan dua strip atau tanda positif dari alat uji kehamilan.

Yuk kita cocokkan ikhtiar yang telah Sahabat Ummi lakukan dengan Tips Program Kehamilan berikut:


Selasa, 17 Februari 2015

Tanda-tanda Kehamilan



Bismillah,

yeaayy... ini  postingan pertama di tahun 2015.. huhuhu telaaat bingiitt... lagi suka apdet di Instagram hihi.. jangan lupa follow @vianawahyu_ juga yaaa :D semoga bisa menjadi semangat awal menerbitkan lahirnya cita-cita Viana di bidang medis, Aamiin...

my own pic on instagram @vianawahyu_


TANDA-TANDA KEHAMILAN
By : Viana Wahyu, Amd. Keb

Kepada-Nya lah dikembalikan pengetahuan tentang hari Kiamat. Dan tidak ada buah-buahan keluar dari kelopaknya dan tidak seorang perempuan pun mengandung dan tidak pula melahirkan, melainkan dengan sepengetahuan-Nya...” QS Al Fussilat : 47

Kehamilan adalah masa yang ditunggu-tunggu dan anugerah terindah bagi seorang perempuan. Tapi terkadang  adanya harapan yang tinggi akan kehamilan, menyebabkan adanya kesalahan mengetahui tanda kehamilan itu sendiri. Yukkk ah belajar apa saja sih tanda-tanda kehamilan itu, simak yaaaa...

TENTANG KEHAMILAN

Lamanya kehamilan dimulai dari proses ovulasi (keluarnya sel telur) hingga persalinan, yang kurang lebih terjadi dalam waktu 280 hari / 40 minggu dan tidak lebih dari 300 hari/ 43 minggu. Kehamilan cukup bulan dengan lama 40 minggu; kehamilan lebih dari 43 minggu (ada juga sumber yang menyebutkan 42 minggu) sebagai kehamilan postmatur/ post date; dan kehamilan antara 28-36 minggu disebut kehamilan prematur. (Wiknjosastro, Hanifa. 2002). 


Rabu, 19 November 2014

COPAS, COPy sesuai ASlinya dunk !



Sebenarnya ini endapan perasaan dari sekian lama, namun terpending berkali-kali oleh urusan yang (sok) penting, hihi.

Baiklah, langsung to the point aja yaaa....


unduh dari : http://www.umnet.com/free-screensaver/108431-white_tulip_640x480



COPAS, COPy sesuai ASlinya dunk.. !
~ Viana Wahyu ~ 


"Biarkan kata-kata itu sendiri yang membela diri. Viana hanya jadi perantara melahirkannya."

Pertama kali kenalan dengan istilah copas itu saat kuliah, dan bukan dari teman-teman satu kuliah, melainkan dari teman-teman yang beda kampus dan jurusan.  Jurusan yang Vi ambil adalah jurusan kesehatan yang waktu itu semuanya harus manual (hikss), komputerisasi baru bisa dinikmati saat adek kelas berjaya (wong saat itu bawa laptop ke kamar asrama saja dilarang e :D) 

Tahu ga artinya copas apa hayooo...? Copy and paste alias salin dan kutip, sob.

Dan makin ke sini ternyata istilah itu makin sering terdengar dan menjadi suatu wabah yang tidak mematikan tapi menghebohkan. Sebab dengan dukungan teknologi-- dan memang teknologilah pemicunya-- wabah copas ini kian mudah ditemukan. Dan akan amat sangat mengherankan jika pemakai teknologi itu tak melazimkan copas, hehe.

Sebenarnya, copas boleh-boleh saja dan amat sangat dibolehkan sekali jika memang tujuannya untuk kebaikan, misal saat mem-BC alias membroadcast info kebaikan yang need urgent atau info penting. Hanya saja, copas ini sempat menimbulkan stuck pada Vi. Menumbuhkan rasa malas dan enggan untuk menulis, sebab bukan saja sebuah tulisan yang panjang, hatta sebuah status yang hanya terdiri dari kalimat sederhana saja dan hanya terdiri dari minimal tiga kata pun habis kena virus copas tanpa nama Vi.

Seharusnya senang jika status atau setiap kebaikan apapun yang niatnya kita bagi menjadi sebuah bahan copas dan disebarluaskan, namun yang membuat Vi enggan menulis itu ketika copas itu berarti bebas menCOngkel POStingan, hiks.



Minggu, 05 Oktober 2014

"Bunda, Kambingnya Ketemu Allah, ya?" (Edisi Qurban)





"Bunda, Kambingnya Ketemu Allah, ya?" (Edisi Qurban)
^ Viana Wahyu^



Bismillah, 
Tahun ini berkurban atas nama ananda cah bagus, Achmad Azzam SP. Dari awal, Azzam sudah diajak Ayah yang memang juga menjadi panitia pelaksanaan Qurban di lingkungan rumah. Dan usai sholat Ied, Azzam ngajak Vi untuk melihat kambing yang sudah dikasih tanda nama untuk Azzam, karena sang Ayah sudah sibuk wara-wiri bersama bapak-bapak.

"Bunda, mana daunnya lagi?" Azzam minta dicariin daun buat kambing putihnya.

Asli, saat itu hati Vi sudah ga karuan. Antara senang dan ga tega. Detik-detik kehidupan kambing yang akan segera berakhir hari ini. Dan harus disaksikan Azzam.

"Mas, nanti kambingnya mau diqurbanin, ya.." kata Vi sambil menahan rasa di hati melihat lahapnya si kambing memakan dedaunan yang disodorkan Azzam. Pengen sebenarnya ngelus-ngelus kambingnya, tapi akhirnya urung karena Vi memilih mengelus-elus hati biar ga kebablas nangis di TKP, heuheu.

"Kenapa kambingnya diqurbanin bunda?"

"Biar kambingnya mas Azzam ketemu Allah, nanti kambingnya in sya Allah jemput mas Azzam buat masuk surga..." (duh, ngetik ini sambil mbrebes mili ingat peristiwa tadi pagi).

Dug... dug... dug...

Tibalah saatnya eksekusi bagi semua hewan yang dikumpulkan oleh yayasan sebagai penanggung jawab pelaksanaan Qurban di lingkungan rumah, YCAT Depok, yang semuanya berjumlah 4 ekor sapi dan 11 ekor kambing. Dan kambing cah bagus urutan pertama yang disembelih. Alhamdulillah lancar (Vi ga tega mo lihat...)

Alhamdulillah, Azzam bertemu kedua teman sekolahnya yang bisa jadi kesempatan bunda buat sedikit menepis perasaan saat melihat eksekusi itu terjadi. Hanya mampu melantunkan takbir tanpa melihat kronologis kejadian hilangnya nyawa-nyawa hewan yang diqurbankan. Dan Azzam, sebisa mungkin Vi batasi untuk melihat langsung hal-hal yang membuat bundanya merasa ngeri "_" Meski tetap saja, rasa penasarannya dan juga ajakan teman-temannya untuk mendekat yang membuatnya mampu menepis himbauan Vi.

"Bunda, kambingnya sudah naik ke atas ketemu Allah, ya...?"

Huwaaa... bundanya baru bisa nangis sekarang saat beberapa jam dari pemotongan hewan yang diqurbankan ketika pertanyaan Azzam itu terngiang lagi. Saat di TKP, Vi berusaha ngajak Azzam untuk bertakbir dan baca do'a saat hewan-hewan itu memenuhi takdirnya. 

Hingga sampailah giliran sang sapi dirobohkan ke tanah untuk diqurbankan. Dan, yang membuat hati menangis (hati aja yaaa, alhamdulillah... Vi masih bertahan untuk tak nangis di lokasi kerumunan orang dan terlebih banyak anak-anak, maluuu lah).

Kali ini Azzam bersama kedua temannya pengen mendekat lagi, bahkan Azzam dkk ikut gantian bertakbir dari toa yang dibawa Ayah saat bertugas. Duh, bundanya malah galau. Akhirnya ayat demi ayat yang bisa Vi baca dari hp bisa menjadi sedikit penenang. 

Mendadak Pengen Pingsan

"Zam, sapinya menangis !" kata Ayah yang berada tak jauh dari Vi. Azzam dkk masih tetap ceria tanpa terbawa emosi kayak sang bunda, huhuhu.

Apaa...? Sapi menangis?  Jadi malah berderai-derai hati Vi. Dan berusaha mengabadikan momen sang sapi yang menangis, hiks.

Takbiiiir.... ! 
(Jujur pengen ngambil toa yang dipegang suami dan ngajak semua hadirin lebih kenceng lagi takbirnya *inget jaman jadi mahasiswa pas ikut demo)

Beda ya feelnya kalau hewan kecil (kambing) yang disembelih dengan sapi. Untuk merobohkannya dengan menghadap kiblat pun harus beberapa orang kekar yang melakukannya.Vi ga berani menatap proses demi proses yang terjadi... Ngilu !

Olala....Karena beberapa lama berkutat di TKP karena ngawasi Azzam, plus jadinya ngemong tiga bocah dengan temannya, akhirnya Vi sempatkan juga memupuk keberanian (baca : bonek bin uji nyali) untuk melihat sesi akhir eksekusi. Saat kepala sapi itu terputus dari badannya (huwaaa) dan saat darah mengalir deras, plus saat kepala sang sapi-sapi telah terpisah dari badannya namun vena jugularis (bener ya para ahli hewan..?) masih berdenyut-denyut memompa darah.Tiba-tiba pingin pingsan. Duuh, Zaaam... ! 

Tapi bunda ga boleh pingsan. Meski basic Vi sebelum diamanahi Allah untuk menjadi seorang istri dan calon bunda adalah tenaga medis, yang tak bergeming ketika darah mengalir, ketika harus menjahit, ketika tangan berlumur darah manusia... Namun justru karena adanya perbedaan yang ditangani adalah manusia, tepatnya wanita melahirkan dan sekarang yang dilihat adalah hewan, membuat nyali Vi menciut. Kebalikan dengan suami atau adek Vi yang mereka lebih tatag (tegar, Jawa) melihat darah hewan dibanding darah manusia. Membuat imajinasi berkelana ke mana-mana. Sampai-sampai sempat terpikir untuk menulis fabel hewan, hehe. 

Mereka Tidak Sakit 


Menyempatkan mengusir galau dengan bbm ke teman-teman, termasuk ke mbak-mbak penulis senior, hingga salah satu mbak, yakni mbak Shabrina Ws yang mengirimkan sebuah artikel dari postingan temannya. Ini ya linknya...hewan disembelih tidak sakit


Kamis, 02 Oktober 2014

Jum'at Mewangi, antara Jalanan dan Sekolah

 
Pic from gardenfly.wordpress.com


 Jum'at Mewangi, antara Jalanan dan Sekolah
  ^ Viana Wahyu ^


Jum'at di Jalanan

Kalau Jum'at ituuh....Jalanan mewangiiiiii....

Itu selalu yang jadi khas kalau keluar rumah tiap hari Jum'at siang mendekati atau selesai momen Jum'atan. Sepanjang jalanan itu wangiii bangeet dah. Ampe mabok hihi.

Kadang Jum'at siang usai sekolah ada urusan karena mendekati weekend dan seringnya tiap Jum'at menjadi hari kumpulan reward buat Azzam setelah seminggu sekolah. Entah dengan mengajaknya jalan meski sekedar ke tempat main anak dan makan di luar (tanpa ayah yang masih di kantor heuheu), kalau dulu pas di Play Group sih Jum'at waktunya jalan-jalan ke kantor Ayah di Jakarta dengan naik commuter line atau kadang usai Jum'atan sudah cuzz menuju holiday :D Jadinya seringnya tiap Jum'at siang menjadi penikmat jalan wangi... Hmmm... 

Jum'at itu pesona wangi yang bertebaran di muka bumi #Viana